Thursday, May 7, 2026

Menkes: Hidup Sehat Harus Menjadi Gerakan, Bukan Sekadar Program

Menkes: Hidup Sehat Harus Menjadi Gerakan, Bukan Sekadar Program

JAKARTA, Nawacita – Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menekankan pentingnya transisi besar dalam pendekatan kesehatan nasional, yakni mengubah “Program Kesehatan” yang bersifat instruksi menjadi “Gerakan Hidup Sehat” yang didorong oleh kesadaran individu.

Hal tersebut disampaikan Menkes saat membuka Obesity Disease Awareness Event: Harapan Yang Meringankan di Jakarta, Kamis (7/5/2026). Acara ini turut dihadiri oleh Duta Besar Denmark untuk Indonesia, Sten Frimodt Nielsen, yang menjadi rujukan dalam diskusi mengenai standar kesehatan global.

Dalam sambutannya, Menkes menyoroti kesenjangan signifikan pada angka harapan hidup. Masyarakat Denmark rata-rata mencapai usia 82 hingga 83 tahun, sementara masyarakat Indonesia masih berada di angka 72 hingga 73 tahun.

Menurut Menkes, kunci dari umur panjang tersebut terlihat jelas dari gaya hidup dan kondisi fisik. Ia mencontohkan Dubes Denmark yang tetap fit di usia 62 tahun dengan indeks massa tubuh (BMI) kemungkinan di bawah 24. “Jika Anda ingin hidup lebih lama, melihat cucu, dan mencapai usia di atas 80 tahun, pastikan berat badan turun dan BMI di bawah 24,” ujarnya.

Baca Juga: Soroti Kasus Kematian Dokter Internship, Menkes akan Evaluasi Jam Kerja dan Tunjangan

Selain itu, ia mengingatkan batasan kesehatan dari WHO terkait lingkar pinggang: di bawah 90 cm untuk pria dan di bawah 80 cm untuk wanita guna menghindari risiko gula darah, tekanan darah tinggi, dan kolesterol.

Menkes juga menegaskan bahwa intervensi kesehatan terbaik bukan melalui pengobatan orang sakit, melainkan menjaga orang agar tetap sehat. “Kesehatan itu tidak bisa dipaksakan. Ia harus menjadi gerakan di mana ownership-nya (rasa memiliki) ada pada setiap individu, bukan hanya di kementerian,” tegas Budi Gunadi Sadikin.

Pemerintah berupaya membangun kesadaran ini melalui edukasi yang transparan, bukan sekadar penegakan aturan atau penalti. Salah satu langkah konkret yang diambil adalah peluncuran Nutri-level atau Nutri-grade, sistem pelabelan (A, B, C, D) yang mengadopsi kesuksesan Singapura. Sistem ini bertujuan menyederhanakan informasi gizi agar masyarakat tidak perlu pusing menghitung kalori secara ilmiah.

Menkes mendorong agar label ini segera diimplementasikan di mal dan jaringan kedai kopi. Ia ingin menciptakan tren di mana memilih minuman sehat menjadi bagian dari gaya hidup modern.

“Kita harus buat ini jadi lifestyle, bikin bahasa anak Jaksel-nya jadi ‘FOMO’ (fear of missing out). Jadi orang merasa lebih keren minum Americano (Kategori A/B) yang nol kalori daripada minuman manis yang tidak sehat,” jelasnya.

Selain pola makan, aktivitas fisik yang konsisten menjadi pilar utama. Menkes merujuk panduan WHO untuk berolahraga minimal 30 menit sehari, 5 hari dalam seminggu. Olahraga terbukti secara ilmiah menurunkan hormon kortisol (stres) dan meningkatkan hormon endorfin.

Sebagai bentuk motivasi nyata, Menkes berencana mengikuti ajang Jakarta Marathon dengan mendampingi pelari tunanetra dalam kategori 21 kilometer. Kampanye inklusif ini bertujuan memicu semangat anak muda agar tidak malas bergerak. “Saya ingin tunjukkan, orang yang memiliki keterbatasan penglihatan saja tetap lari, masa kita yang sehat tidak mau bergerak,” pungkasnya.

Di akhir sambutannya, Menkes juga meminta dukungan para tenaga kesehatan dan influencer untuk terus mengedukasi dan menciptakan gerakan hidup sehat yang masif demi masa depan bangsa yang lebih berkualitas. (Kemenkes)

- Advertisement -
RELATED ARTICLES

Terbaru