Cegah Banjir, Walikota Eri Evaluasi Manajemen Air Avur Margorejo
Surabaya, Nawacita | Walikota Surabaya, Eri Cahyadi, meninjau secara langsung Sungai Avur Margorejo, yang berlangsung di Jalan Margorejo Indah, Kecamatan Wonocolo, Selasa (28/4/2026).
Pada kesempatan tersebut, Walikota Eri turut menjelaskan manajemen aliran air di saluran Margorejo kepada lurah serta camat setempat.
“Terkait saluran tadi saya ingin menunjukkan sama teman-teman, lurah camat, saya ajak ke saluran yang di wilayah Margorejo,” ucap Walikota Eri.
Eri menjelaskan, alur aliran air dari kawasan Karah, Jambangan, hingga bermuara ke Avur Margorejo. Sebab apabila wilayah Margorejo mengalami genangan, maka bisa dipastikan aliran air akan berbalik ke wilayah asal dan memicu banjir.
“Sehingga saya ingin tunjukkan yang di Karah itu mulai Jambangan alirannya di Margorejo. Kalau di sini (Margorejo) banjir, secara otomatis (air) balik, di sana (Karah) banjir semua,” jelasnya.
Baca Juga: Sejumlah Pejabat Pemkot Diperiksa, Penertiban Pasar Tumpah Diperketat
Cak Eri, sapaan akrabnya, mengungkapkan bahwa ada alternatif lain yang dapat dilakukan untuk mencegah penuhnya aliran air di wilayah Margorejo. Menurutnya saluran Kebon Agung dapat dimaksimalkan agar mencegah terjadinya banjir di Margorejo.
“Berarti (air) yang dari Karah nggak boleh lari ke sini (Margorejo). Karena kalau lari ke sini (Margorejo), Kampung Wonocolo pasti banjir,” ungkapnya.
Sebagai solusi, ia meminta agar saluran di Margorejo ditutup sementara dan dialihkan menuju Kebon Agung, kemudian diteruskan ke Avur Wonorejo. Skema ini dinilai dapat mendistribusikan aliran air secara lebih merata sehingga tidak menumpuk di satu titik.
“Maka saluran Margorejo ditutup, tapi dibuatkan jalur ke Kebon Agung, lalu dialirkan ke Avur Wonorejo,” jelasnya.
Baca Juga: Empat Perjalanan KA Dibatalkan, KAI Daop 8 Surabaya Pastikan Refund 100 Persen
Selain itu, Eri juga menekankan pentingnya keterlibatan camat dan lurah dalam proses teknis, termasuk perhitungan elevasi menggunakan alat seperti theodolit atau waterpass. Hal ini penting agar para pemimpin wilayah memahami secara menyeluruh solusi penanganan banjir.
Menurutnya, penanganan banjir tidak cukup hanya dilakukan di titik genangan, melainkan harus melihat sumber permasalahan di wilayah hulu.
“Banjir tidak selalu diselesaikan di lokasi yang tergenang, tapi bisa dari hulunya,” tegasnya.
Ke depan, Eri berencana melanjutkan peninjauan ke wilayah lain yang rawan banjir, seperti Tenggilis Mejoyo dan Medokan Semampir. Ia juga kembali menegaskan bahwa peran camat dan lurah sangat penting dalam menyelesaikan persoalan banjir di Kota Surabaya.
“Bagi saya, wali kotanya adalah camat dan lurah. Mereka harus memahami betul wilayahnya,” pungkasnya.
Reporter : Rovallgio

