Menko PMK: Maqam Tertinggi Profesor Adalah Komitmen Terhadap Kemanusiaan

0
141

Nawacita – Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy mendorong semua profesor atau guru besar perguruan tinggi di Indonesia untuk memberikan sumbangsih pemikirannya demi kepentingan kemanusiaan.

Muhadjir menjelaskan, gelar profesor merupakan jenjang akademis tertinggi yang tidak sembarang orang bisa meraihnya. Kata dia, gelar itu bukanlah untuk membanggakan diri karena sudah mencapai pangkat tertinggi akademis.

Tetapi, harus bisa digunakan untuk mengabdikan diri demi kepentingan masyarakat, kepentingan bangsa dan negara, bahkan untuk kepentingan kemanusiaan.

Hal itu disampaikannya saat menjadi pembicara kunci dalam “Dialog Kebangsaan: Refleksi Kemerdekaan RI Dalam Memperkokoh Kesatuan dan Persatuan Indonesia”, yang diselenggarakan oleh Asosiasi Profesor Indonesia (API), secara daring, pada Sabtu (21/8).

“Saya kira maqam (kedudukan) tertinggi dari semua profesor adalah komitmen terhadap kemanusiaan. Setelah komitmen terhadap dirinya, bersumpah untuk menghabiskan seluruh kemampuannya, pengabdiannya, kecintaannya terhadap ilmu pengetahuan dan untuk kepentingan ilmu itu sendiri. Kemudian berkembang menjadi kepentingan nasional, dan puncaknya adalah kepentingan kemanusiaan,” ujar Menko PMK.

Lebih lanjut, Muhadjir memaparkan, masih banyak urusan kemanusiaan yang dihadapi Bangsa Indonesia di usia ke-76 kemerdekaan Republik Indonesia.

Selain masalah pandemi Covid-19 yang belum tuntas, menurut dia, masih banyak rakyat Indonesia yang belum merdeka secara substansi.

Mereka yang berada dalam jebakan kemiskinan ekstrem, kebutuhan dasar yang tidak terpenuhi dengan baik, dan generasi muda yang terancam menjadi lost generation adalah sekelumit cerminan masalah-masalah rakyat Indonesia yang belum terpenuhi hak-hak kemerdekaannya.

Menurut Menko Muhadjir, untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut butuh kekuatan yang besar. Tidak mungkin hanya mengandalkan satu kekuatan seperti dari pemerintah atau negara saja. Tetapi perlu dukungan semua pihak.

“Termasuk tentu saja, saya sebagai Menko PMK berharap sekali kepada API dan seluruh anggota untuk memberikan masukan-masukan kepada Kemenko PMK,” ujarnya.

Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu berharap, profesor bisa menumbuhkan keprihatinan, mencurahkan pikirannya, dan membantu mencari solusi dalam masalah kemanusiaan di Indonesia, serta mencari solusi untuk masa depan mereka yang belum mendapatkan hak-hak substansi kemerdekaannya. Utamanya, kata Muhadjir adalah masalah generasi muda yang terancam menjadi lost generation.

“Saya akan terus menunggu sumbangsih dari para profesor melalui API untuk pikiran-pikirannya yang jernih, dan pikiran-pikirannya yang terdepan dalam rangka mengisi kemerdekaan Indonesia,” pungkas Menko PMK.

Turut hadir dalam dialog kebangsaan secara daring tersebut Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Pendidikan dan Moderasi Beragama Kemenko PMK R. Agus Sartono, Ketua Umum API Ari Purbayanto, Sekretaris Umum API Evy Damayanti, Penasehat API Sofian Effendi, Rektor Unhas sekaligus Anggota Dewan Penasehat Dwia Aries Tina Pulubuhu, dan seluruh pengurus API di seluruh Indonesia.

Alma Fikashari

LEAVE A REPLY