Blok Rokan, ‘Harta Karun’ yang Resmi Dimiliki Pertamina Esok

0
96

Jakarta, Nawacita – Masa kontrak bagi hasil produksi minyak dan gas bumi PT Chevron Pacific Indonesia (CPI), operator Blok Rokan, Riau, telah berakhir pada Minggu (8/8/2021). Mulai Senin (9/8/2021), pengelolaan Blok Rokan akan diambil alih oleh PT Pertamina (Persero) melalui PT Pertamina Hulu Rokan (PHR).

Managing Director Chevron IndoAsia Business Unit dan President Director Chevron Pacific Indonesia Albert Simanjuntak mengatakan, Chevron sudah ada di Indonesia hampir seabad yang lalu, tepatnya 97 tahun lalu sejak 1924. Kiprah Chevron di Indonesia bermula saat tibanya ahli geologi dari Standard Oil Company of California (Socal) pada 1924.

Tim geologi Socal ini selanjutnya bermitra dengan Texaco yang akhirnya membentuk Caltex sekitar tahun 1930-an. Selanjutnya, Caltex melakukan eksplorasi di daerah Sumatra Tengah yang kini dikenal dengan Riau.

“Syukur alhamdulillah penemuan migas didapatkan di awal tahun ’40-an yakni di Lapangan Sebanga, Duri, dan Minas. Upaya untuk mengeksplorasi dan memproduksi sempat terhenti karena adanya perang kemerdekaan dan akhirnya pada 1953 Lapangan Minas yang terbesar di Asia Tenggara berhasil diproduksikan,” paparnya kepada CNBC Indonesia pada, Kamis (05/08/2021).

Blok Rokan pun menjadi harta karun migas Indonesia, bahkan produksinya sempat menembus 1 juta barel per hari (bph) pada masa puncaknya, tepatnya pada 1973. Dia mengatakan, produksi puncak tersebut dilakukan oleh Chevron yang saat itu dikenal sebagai Caltex Pacific Indonesia.

Sejak saat itu, Chevron yang saat itu dikenal sebagai Caltex Pacific Indonesia yang kini berubah menjadi Chevron Pacific Indonesia, terus melakukan penambahan sumur-sumur produksi.

Sejak saat itu, Chevron tidak terlepas dari inovasi dan teknologi yang diterapkan, termasuk injeksi uap (steam flood) yang diterapkan sejak 1980an di Lapangan Duri. Saat ini, Blok Rokan menjadi blok minyak dengan produksi terbesar kedua di Indonesia.

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mencatat produksi terangkut (lifting) minyak Blok Rokan pada semester I 2021 ini rata-rata mencapai 160.646 barel per hari (bph) atau 97,4% dari target di dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2021 sebesar 165.000 bph.

Sementara produksi minyak nasional RI memang terus melandai sejak 1997 dan semakin anjlok di bawah 1 juta barel per hari (bph) sejak 2010 hingga kini. Bahkan, berdasarkan data Kementerian Keuangan, lifting minyak dalam satu dekade terakhir menunjukkan telah anjlok 25,8% menjadi 707 ribu barel per hari (bph) pada 2020 dari 954 ribu bph pada 2010.

Adapun realisasi produksi terangkut (lifting) minyak RI pada semester I-2021 rata-rata mencapai 666,6 ribu barel per hari (bph), atau baru 94,6% dari target lifting minyak tahun ini yang dipatok sebesar 705 ribu bph.

Sumber : CNBC

LEAVE A REPLY