Jadi Tuan Rumah, Indonesia Dorong Pengesahan IORA Concord

0
370

Nusa Dua, NAWACITA – Indonesia kembali menjadi tuan rumah rangkaian pertemuan Indian Ocean Rim Association (IORA) di Nusa Dua, Bali. Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri Desra Percaya menyebut salah satu target pertemuan adalah menghasilkan kesepakatan negara peserta IORA untuk menggolkan IORA Concord pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) IORA.

“Intinya adalah tentu saja mempersiapkan pertemuan Council Of Minister (COM) Kementerian Luar Negeri pada 27 Oktober 2016, kemudian akan membahas persiapan Summit Maret 2017,” kata Destra usai agenda Committee of Senior Officials (CSO) Meeting di Hotel Westin, Nusa Dua, Bali, Selasa (25/10/2016).

Destra yang juga menjabat sebagai Ketua CSO Meeting kali ini menjelaskan agenda hari ini fokus pada pembahasan prinsip-prinsip yang menjad basis untuk membangun visi bersama di kawasan lingkar Samudera Hindia. Visi itu kemudian akan dibawa pada pertemuan tingkat kepala negara peserta IORA yang akan dihelat tahun depan.

“Hari ini fokus era concord, sekarang sudah naik 95 persen tinggal ada 1 isu yang belum selesai mudah-mudahan malam ini atau besok pagi bisa diselesaikan. Jadi area concord, area attachment, action plan kita harapkan diterima oleh Council Of Minister (COM) untuk dibawa ke Summit,” jelasnya.

Indonesia menjadi ketua IORA untuk periode 2015-2017. Agenda tahun ini mengusung tema “Strengthening Maritime Cooperation for a Peaceful, Stable and Prosperous Indian Ocean”.

Sebagai negara yang berada di persilangan Samudra Hindia dan Samudra Pasifik, Indonesia memaksimalkan keketuaannya untuk mendorong peningkatan kerjasama maritim dan penguatan diplomasi ekonomi di kawasan Samudra Hindia.

“Hal ini sejalan dengan visi Indonesia sebagai poros maritim dunia. Selain itu, kepemimpinan Indonesia juga akan dimanfaatkan untuk memajukan pengembangan kawasan Samudra Hindia sebagai new growth center melalui kerja sama IORA,” kata Destra.

Isu prioritas yang dibahas oleh IORA adalah ancaman keamanan non-tradisional termasuk pembajakan, IUU (Illegal, Unreporterd, Unregulated) fishing, penyelundupan manusia, penyelundupan narkoba, bencana alam dan perubahan iklim.

Keberadaan IORA menjadi salah satu wadah bagi negara-negara di lingkar Samudera Hindia untuk saling bertemu dan berdiskusi mengenai masalah di regional mereka.

“Kedua kita melihat di kawasan lain kalau tidak ada enggangement (pertemuan), tidak ada kontak, platform, potensi meledak itu akan semakin besar. Jadi harapan kami IORA ke depan jadi satu asosiasi yang tidak hanya membahas mengatasi isu-isu pembangunan tapi juga keamanan politik karena ancaman ke depan akan ada aspek keamanan politik tentu kerja sama ekonomi dan perdagangannya juga akan terganggu,” jelas dia.

IORA digelar 12-27 Oktober 2016 dengan mengambil lokasi Jakarta dan Bali. Untuk Indian Ocean Rim Academic Group (IORAG) dan Indian Ocean Rim Business Forum (IORBF) telah digelar pada 12-13 Oktober di Hotel Borobudur, Jakarta.

Sedangkan pertemuan penting lainnya, termasuk Council of Ministers Meeting (COM) yang menghadirkan para Menteri Luar Negeri negara-negara anggota IORA digelar di Bali. Menteri Luar Negeri Retno Marsudi akan hadir dan memimpin forum setingkat menteri tersebut.

SUMBER : DETIK

LEAVE A REPLY