Bunda Rini Apresiasi Jalannya Program CERIA, Dorong Kebiasaan Mendongeng Untuk Bangun Karakter Anak
Surabaya, Nawacita | Bunda Literasi Kota Surabaya, Bunda Rini Indriyani, apresiasi jalannya program pelatihan bercerita bagi orang tua pemula bertajuk CERIA (Cerita Ayah Eri dan Bunda Rini Itu Asyik) yang diselenggarakan di Gedung Wanita Candra Kencana, Rabu (6/5/2026). Kegiatan ini bertujuan memperkuat peran keluarga dalam membangun karakter anak melalui kebiasaan sederhana, yakni mendongeng.
Bunda Rini menekankan bahwa aktivitas bercerita memiliki banyak manfaat bagi tumbuh kembang anak. Selain memperkaya kosakata dan mengasah imajinasi, dongeng juga menjadi sarana efektif membangun kedekatan emosional antara orang tua dan anak.
“Anak-anak diharapkan memiliki kosakata yang banyak, mempunyai imajinasi yang luas, sekaligus membangun bonding dengan orang tua. Dalam bercerita itu ada komunikasi, interaksi, bahkan sentuhan yang sederhana namun bermakna,” ujarnya.
Baca Juga: Pemkot Surabaya Berlakukan Voucher Parkir, Dorong Digitalisasi Pembayaran Non Tunai
Ia menambahkan, kegiatan mendongeng tidak membutuhkan biaya besar. Orang tua hanya perlu meluangkan waktu untuk berinteraksi dengan anak. Bahkan, cerita bisa dibuat dari hal-hal sederhana di sekitar.
“Tidak harus dari buku cerita. Misalnya ada jeruk di meja makan, orang tua bisa bercerita tentang warna, rasa, dan manfaatnya. Itu bisa jadi dongeng yang menarik bagi anak,” jelasnya.
Menurut Bunda Rini, kebiasaan mendongeng secara rutin akan memperkaya perbendaharaan kata anak. Ia meyakini, anak yang terbiasa mendengar cerita akan memiliki kemampuan bahasa lebih baik dibandingkan orang tuanya.
“Kalau kita berdongeng dengan 100 kosakata, anak bisa menyerap menjadi 200 atau bahkan 300 kosakata. Dari situ, imajinasi mereka berkembang dan kelak mendorong inovasi saat dewasa,” paparnya.
Baca Juga: Walikota Surabaya Buka Hotline “Lapor Cak Eri”, Dorong Warga Aktif Awasi Layanan Publik
Meski demikian, ia mengakui tantangan utama dalam membiasakan dongeng adalah keterbatasan waktu orang tua, terutama yang bekerja. Namun, ia menegaskan hal tersebut bukan alasan untuk tidak melakukannya.
“Selalu ada waktu, misalnya saat malam hari atau hari libur. Yang penting orang tua mau mencari momen untuk bersama anak,” tegasnya.
Bunda Rini juga mengapresiasi antusiasme peserta, khususnya para ibu muda di Surabaya yang mengikuti pelatihan ini. Ia berharap semangat tersebut dapat memperkuat ketahanan keluarga di Kota Pahlawan.
“Harapannya, anak-anak di Surabaya tumbuh menjadi pribadi berkarakter. Ketahanan keluarga harus menjadi utama. Jika ayah dan ibu kuat serta harmonis dengan anak, maka akan lahir anak-anak hebat,” pungkasnya.
Reporter : Rovallgio

