Dua Oknum Polisi Aniaya Jurnalis Tempo Jalani Sidang Perdana

0
578

Surabaya, Nawacita – Dua orang oknum polisi Bripka Purwanto dan Brigpol Muhammad Firman Subakhi yang melakukan pemukulan terhadap Jurnalis Tempo, Nurhadi mulai disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya.

Di awal sempat terjadi penolakan dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) Winarko. Jaksa menolak kehadiran tim Bantuan Hukum (Bankum) Polda Jatim duduk di kursi persidangan dan menjadi pengacara kedua terdakwa. Penolakan itu dilontarkan Jaksa Winarko dengan mendatangi meja majelis hakim.

“Kalau polisi menjadi advokat tidak bisa, hanya pendampingan saja. Bankum dari Polri sifatnya hanya pendampingan dan tidak bisa jadi advokat karena masih sebagai aparatur sipil negara. Hal ini sesuai keputusan Mahkamah Agung Nomor 8810 tahun 1987,” kata Jaksa Winarko, Rabu (22/9).

Ketua majelis hakim Mohammad Basir pun menyetujuinya meski masih membolehkan Bankum Polri duduk di kursi persidangan mendengarkan jaksa membacakan dakwaan.

Jaksa Winarko dalam dakwaannya menyatakan kedua terdakwa dengan sengaja melakukan tindakan yang menghambat atau menghalangi jurnalis melaksanaan tugasnya sesuai ketentuan pasal 4 ayat 2 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Perkara ini berawal pada Sabtu, 27 Maret 2021, Nurhadi tiba di Gedung Samudra Bumimoro Surabaya untuk mendapatkan keterangan dari seorang pejabat Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan, yang ditangani oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Sang pejabat saat itu tengah menggelar resepsi pernikahan.

Setiba di lokasi dia didatangi oleh panitia pernikahan dan menanyai tamu dari mana. Ia menjawab dari mempelai perempuan, tetapi perwakilan keluarga dari pihak perempuan mengaku tidak kenal.

Setelah itu, Nurhadi didorong menjauh ke belakang gedung oleh seorang ajudan pejabat tersebut. Telepon genggam wartawan juga dirampas, dikata-katai dan diancam pembunuhan. Bukan itu saja. Nurhadi juga dibawa seorang anggota yang diduga dari kesatuan TNI ke sebuah pos untuk ditanyai identitas dan keperluannya.

Selepas itu, Nurhadi akan dibawa ke Polres Pelabuhan Tanjung Perak. Di tengah perjalanan, ia dibawa kembali ke gedung tempat resespi untuk diinterogasi oleh aparat dan seorang ajudan pejabat pajak. Nurhadi diinterogasi disertai dengan tendangan, pukulan dan, penamparan hingga ancaman pembunuhan.

Anehnya, setelah itu, Nurhadi disorongkan uang Rp 600 ribu dalam lembaran sebagai ganti kerusakan telepon genggam. Namun ditolak dan dikembalikan ke mobil yang mengantarnya pulang.

Nurhadi pulang ke rumah diantar oleh dua orang yang mengaku sebagai polisi pada Minggu 28 Maret 2021 pukul 02.00 dini hari. Ia mengalami luka robek di bibir dan dada sesak akibat pemukulan.

sumber : Jawa Pos 

LEAVE A REPLY