Evita Nursanty Kritik Kinerja RS BUMN Yang Lambat Tangani Pasien Covid-19

0
96

Jakarta, Nawacita – Anggota Komisi VI DPR RI Evita Nursanty merasa kecewa dengan pergerakan rumah sakit yang di kelola Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dalam melayani pasien-pasien terdampak pandemi Covid-19. Menurutnya, rs BUMN terkesan lambat dalam mengatasi keadaan darurat saat ini akibat melonjaknya kasus Covid-19.

“Saat ini kita menghadapi keadaan darurat seharusnya hal ini di antisiapsi, dalam hal ini pemerintah melalui rumah sakit BUMN. Tapi sepertinya tidak di antisipasi. Bagaimana bisa ventilator dan oksigen kurang. Saya merasa kecewa harusnya rs BUMN terdepan dalam menghadapi kedaruratan ini,” kata Evita, dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Direktur PT Pertamina Bina Medika (Pertamedika) IHC, Selasa (6/7/2021).

Dia pun menyoroti wacana pembangunan  rumah sakit modular atau rumah sakit darurat khusus pasien Covid-19. Menurutnya pembangunan yang dilakukan tidak tepat.

“Seharusnya dalam keadaan darurat kita mencari solusi yang terdekat, ketika sekolah-sekolah kosong, ketika gedung atau perkantoran pada tutup, hotel pada tutup, kenapa kita harus membangun? BUMN harusnya berpikiran untuk mengantisipasi darurat,” tegasnya.

Selain itu, dalam upaya pemerintah untuk memberikan layanan obat gratis bagi masyarakat yang bekerja sama dengan pihak swasta. Ia menilai, seharusnya BUMN memiliki peranan utama dalam memberikan layanan tersebut bukan pihak swasta.

“Bumn harusnya didepan dalam hal-hal pengawasan, membuat aktifasi platform, bagaimana memberikan obat gratis, jangan sama swasta kerja sama nya kemana BUMN?,” tegas Politikus PDIP itu.

“BUMN harus jadi distribusi obat, karena jaringan banyak sekali, apa yang dipaparkan dalam rapat tidak menunjukan action,” tambahnya.

Sebelumnya, dalam rapat tersebut Direktur Utama Pertamedika IHC Fathema Djan Rachmat menyampaikan bahwa PT Pertamina Bina Medika (Pertamedika) Indonesia Healthcare Corporation (IHC) tengah membangun rumah sakit modular di kawasan Tanjung Duren, Jakarta Barat, yang akan difungsikan sebagai tempat perawatan pasien Covid-19.

RS modular tersebut nantinya memiliki 500 tempat tidur dan ditargetkan rampung dalam waktu empat pekan ke depan.

“Yang akan kita bangun bersama-sama nantinya ini Pak, 500 bed lagi dengan 200 tempat tidur untuk ICU dan 300 isolasi. Diharapkan 500 bed ini selesai dalam empat minggu,” jelas Fathema.

Lebih lanjut, ia menuturkan hingga kini proses pembangunan RS modular itu sudah masuk tahap pembersihan area dan pengerasan tanah. Pertamedika IHC juga sudah memesan alat-alat kedokteran yang akan dipasang di sana.

“Empat minggu dari sekarang (selesai), jadi kalau bentuknya itu adalah modular, dia bentuknya tinggal pasang-pasang saja pak,” imbuhnya.

Penulis: Alma Fikhasari

LEAVE A REPLY