PAN Nyatakan Tidak Ikut Dalam Wacana Poros Islam di Pemilu 2024

0
431
Viva Yoga Mauladi.
Viva Yoga Mauladi.

Jakarta, Nawacita – Viva Yoga Mauladi Wakil Ketua Umum PAN memberikan apresiasi terhadap gerakan untuk menghidupkan wacana Poros Islam di pemilu 2024 yang dilakukan oleh PPP dan PKS. PAN menilai gerakan tersebut sebagai bagian dari ijtihad politik PPP dan PKS.

Namun, ia menegaskan jika PAN tidak akan ikut wacana Poros Islam. Karena beberapa hal penting sebagai dasar pemikiran PAN.

“Pertama, meski ciri atau identitas khas partai politik atau ideologi politik partai telah dijamin di Undang-undang nomor 2 tahun 2011 tentang Partai politik, namun kita harus hati-hati menggunakan politik identitas berbasis agama sebagai merk jualan ke publik,” kata Viva, dalam keterangan resmi yang diterina nawacita.co, Kamis (15/4/2021).

Menurutnya, Simbol-simbol agama sebaiknya jangan dimasukkan ke dalam turbulensi politik. Sebab, dapat menyebabkan keretakan kohesivitas sosial dan dapat mengganggu integrasi nasional.

Contoh di beberapa kasus di pilkada atau di pilpres, itu sebagai bukti dan fakta lapangan yang mesti menjadi pelajaran sejarah bagi semuanya. Oleh karena itu, PAN tidak ingin kondisi seperti itu akan terulang lagi.

“Kedua, wacana poros politik berbasis agama akan melahirkan antitesa poros lain berbasis non agama. Kondisi politik ini tentu ahistoris dan tidak produktif bagi kemajuan bangsa,” terangnya.

Ia menilai, wacana tersebut lebih baik diarahkan ke adu ide dan gagasan untuk meningkatkan kualitas demokrasi dan sumber daya manusia unggul, memperbaiki kesehatan dan perekonomian nasional, membangun kedaulatan pangan agar tidak impor, membangun militer yang modern, dan tema lainnya yang bermanfaat buat kecerdasan bangsa.

Dan terakhir, alasan yang menjadi landasan untuk tidak ikut dalam wacana poros islam yakni proses pendidikan politik rakyat harus diarahkan secara rasional, melalui pendekatan akal sehat agar demokrasi dapat berjalan sehat dan berguna untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.

“Bukan politik prosedural atau rutinitas, tetapi berpolitik yang substantif dan produktif,” pungkasnya.

Penulis: Alma Fikhasari

LEAVE A REPLY