Women March Surabaya, Serukan Keberanian Perempuan Hingga Tolak RUU Ketahanan Keluarga

0
203

Surabaya, Nawacita – Memperingati hari perempuan sedunia, Women March Surabaya mengadakan aksi longmarch di Taman Bungkul pada Ahad (8/3). Aksi yang berisikan ajakan dan seruan untuk menghormati perempuan ini diikuti oleh berbagai elemen warga Surabaya.

selain longmarch, Women March juga menyerukan 14 tuntutan yang disuarakan melalui tari kontemporer, orasi, dan pembacaan puisi. 14 tuntutan itu diantaranya menyinggung penolakan RUU Ketahanan Keluarga, mendesak pembatalan RUU Omnimbus Law serta mendorong pengesahan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual.

Siska selaku koordinator aksi Women March mengatakan bahwa aksi ini rutin dilakukan tiap tahunnya di bulan Maret. Aksi ini sebenarnya sudah dilakukan sejak tahun 2018 lalu. Serta diikuiti oleh semua elemen warga Surabaya dan sekitarnya dari berbagai kalangan lintas gender dan latar belakang.

“Setiap tahunnya seruan kita berbeda dan berkembang. Pada tahun 2018, kita menolak RUU Perzinahan. Tahun lalu (2019) mendesak pengesahan RUU PKS, sekarang berkembang penolakan RUU Ketahanan Keluarga dan Omnimbus law,” ujarnya kepada Nawacita pada Ahad (8/3).

Siska berpandangan RUU Ketahanan Keluarga dan Omnimbus Law sudah selayaknya ditolak oleh masyarakat khususnya perempuan. Sebab dalam kedua RUU tersebut banyak terdapat pasal yang merugikan rakyat.

“RUU Ketahanan Keluarga bersifat lebih diskriminasi. Dimana ada pasal suami sebagai kepala keluarga bertanggung jawab atas keluarganya. Padahal kalau berbicara keluarga, maka suami dan istri seharusnya saling melengkapi,” terangnya.

Lanjutnya, Siska mengatakan menyuarakan RUU PKS dan menolak aturan bermasalah lainnya tidak hanya dilakukan setahun sekali. Namun seperti tahun lalu, Ia mengaku bersama koalisi lainnya juga pernah bersuara di DPRD Jawa Timur untuk mendesak pengesahan RUU PKS.

“RUU PKS belum sah, malah sekaranv ada wacana RUU Ketahanan Keluarga,” ujarnya.

Tujuan diadakan Women March bukan semata-mata untuk menuntut. Namun juga memberikan edukasi berupa wawasan mengenai maraknya kekerasan, bulliying yang terjadi di masyarakat. Baik dari lintas gender maupun golongan. Sehingga Siska menghimbau agar masyarakat berani bersuara khususnya yang termarjinalkan.

“tetapi di luar aksi teman-teman bisa secara pribadi bisa membuat gerakan di Sosmed untuk mengajak orang-orang yang terkena diskriminatif,” pungkasnya.

(and)

LEAVE A REPLY