Tarif Impor Baru Berlaku, Sektor Manufaktur Asia Terttekan

0
177
Ilustrasi.
Ilustrasi.

JAKARTA, Nawacita – Sentimen manufaktur di seluruh Asia masih lesu sepanjang bulan Agustus karena perang perdagangan AS-China terus menghantam sentiment investor.

Dilansir dari Bloomberg, indeks manajer pembelian (purchasing managers’ index/PMI) Jepang, Korea Selatan dan Taiwan tetap berada di wilayah negatif. Berdasarkan data PMI Jibun Bank dan IHS Markit, PMI Jepang turun menjadi 49,3 dari 49,4 pada Juli, kontraksi bulan ke delapan berturut-turut, Sedangkan PMI Taiwan turun menjadi 47,9 dari 48,1 pada Juli.

Sementara itu, IHS Markit mencatat PMI Korea Selatan naik menjadi 49 dari 47,3 pada bulan Juli, namun masih menunjukkan kontraksi karena masih berada di bawah level 50.

Tiga negara yang berfokus pada manufaktur tersebut menjadi yang paling rentan terhadap ketegangan perdagangan, meredanya booming teknologi, dan melambatnya laju permintaan sejalan dengan melemahnya ekonomi global.

Sementara itu untuk China, Caixin Media dan IHS Markit mencatat PMI naik menjadi 50,4 dari 49,9 pada Juli, menunjukkan level ekspansi dan level tertinggi sejak Maret. Namun, PMI manufaktur turun menjadi 49,5 pada Agustus menurut data yang dirilis oleh Biro Statistik Nasional (NBS) China.

Sementara itu, aktivitas manufaktur di Asia Tenggara melambat dengan Indonesia tergelincir lebih jauh ke dalam kontraksi ke level terendah sejak Juli 2017, sedangkan Filipina, Thailand, dan Myanmar semua berekspansi lebih lambat.

“Indeks manajer pembelian Agustus menunjukkan kelemahan menyebar di ekonomi Asia. Pelemahan ini meningkatkan tekanan pada otoritas Asia untuk meningkatkan dukungan kebijakan,” ungkap Chang Shu dan Justin Jimenez, ekonom dari IHS Markit, seperti dikutip Bloomberg.

Perkembangan dalam hubungan perdagangan AS-China masih menjadi sentimen utama. Pada hari Minggu, kenaikan tarif terhadap sekitar barang impor asal China senilai US$110 miliar mulai berlaku, seperti juga tariff balasan China atas barang-barang AS.

“Ketidakpastian yang tinggi atas kebijakan perdagangan AS-China, Brexit, dan perkembangan politik dan geopolitik lainnya terus membebani prospek global,” tulis ekonom di Barclays dalam sebuah catatan.

bsn

LEAVE A REPLY