Menurunnya SDA Picu Konflik Kegiatan Industri Hulu Migas

0
403

Nawacita – Kepala Devisi Formalitas SKK Migas, Didik S. Setyadi mengungkapkan jika sampai saat ini kegiatan hulu migas masih diwarnai konflik. Hal tersebut karena berbagai faktor, salah satunya karena terbatasnya sumber daya alam yang tersedia.

“Kalau gas bumi itu bisa kita temukan seperti kita mengambil air di sumur, hampir dipastikan tidak ada konflik karena kebutuhan terpenuhi,” katanya dalam diskusi bedah Buku ‘Resolusi Konflik, Kegiatan Industri Hulu Migas Vs Masyarakat Sekitar’ yang merupakan hasil tangannya, Jakarta, Senin, (8/7/2019).

Gas bumi itu diberikan Tuhan, lanjutnya tapi tidak mudah untuk ditemukan. Gas bumi berada di bebatuan di bawah tanah dan harus dibor lebih dari 3 kilo meter.

“Kegiatan hulu migas ialah eksplorasi mencari sumber gas setelah ketemu baru dieksploitasi untuk diambil manfaatnya. Pertanyaannya, ketika kita punya kekayaan gas bumi ini kita mau digunakan apa,” bebernya lagi.

Didik menjelaskan hakikat minyak adalah sumber energi. Tidak ada kehidupan di Dunia yang tidak menggantungkan ke minyak.

“Hari ini ruangan kita diterangi lampu-lampu. Emang pernah bertanya ini lampu sumbernya dari mana. Kita belum bisa melepaskan hidup dari energi,” imbuhnya.

Selain itu, Didik juga menjelaskan jika dunia saat sudah berubah. Dahulu asing dan aseng masuk Indonesia mencuri dan merampok kekayaan indonesia. Tetapi jika sekarang asing dan aseng mau mencuri di indonesia adalah hal yang bodoh karena sekarang cadangan minyak di indonesia hanya 0.2 persen dari dagang indonesia.

“Negara kaya minyak hari ini adalah Venezuela dan negara bekas Uni Soviet, dan negara-negara di timur tengah. Dahulu tahun 1940an indonesia menjadi produsen terbesar ke lima didunia,” tandasnya.

Hal senda juga disampaikan Ketua Dewan Nasional Walhi, Risma umar, menurutnya saat ini ketika negara mempertahankan energi agar tidak dieksploitasi oleh asing aseng itu sangat susah. Pasalnya kebijakan pemerintah sering kali berubah-ubah seiring pergantian rezim.

“Saya mengumpulkan data dari 5 rezim. Dan setiap rezim selalu ada peebedaan kebijakan. Ini artinya kebijakan sangat dipengaruhi oleh ikut campur politisi,” ungkap aktivis alumni magister sosiologi Universitas Indonesia itu.

Ia menekankan harus ada pembenahan kebijakan terkait hulu migas agar tidak tumpang tindih. Menurutnya banyak sekali aturan kebijakan kebijakan yang kadang membingungkan karena diproduksi oleh kepentingan politik.

“Kalau tidak kita benahi kebijakan eksploitasi energi, kita akan ketinggalan. Sekarang ini sangat susah sekali karena ada pemain politik setiap kebijakan,” keluhnya. (M.Yaqin)

LEAVE A REPLY