Tanggapi ‘Politik Genderuwo’, Politisi PAN Nilai Jokowi Kehilangan Issue

0
195
Politisi PAN, Ali Taher
Politisi PAN, Ali Taher

JAKARTA,Nawacita – Politisi Partai Amanat Nasional (PAN), Ali Taher mengatakan Presiden Jokowi Dodo telah kehilangan issue kampanye atas pernyataannya yang mengatakan ‘politik genderuwo’ terhadap publik. Menurutnya hal tersebut untuk menutupi polemik tidak meratanya pertumbuhan ekonomi.

“Ya karena kehilangan issue, kemudian itu apalagi yang mau diangkat sementara masalah pertumbuhan ekonomi tidak merata. Indikatornya itu,” ujar Ali di Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, Senin (12/11/2018).

Ali mengatakan banyak polemik dan ketimpangan yang dijalankan di Pemerintahan Jokowi dari segi ekonomi maupun hukum, yaitu terlihat dari kebijakan impor yang berlebih dan sikap tidak impartial dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam menyelesaikan kasus korupsi.

“Pajak gak sesuai dengan target, impor kita juga banyak menggerus ke dollar, penegakkan hukum yang pilih kasih tajam ke bawah tumpul ke atas faktanya menujukkan,” lanjut Ali.

“Ada yang gak perlu saya sebut, ada perusahaan yang dianggap KPK termasuk di wilayah bermasalah kemudian bebas dari hukum. Itu kan bagian dari ketidakpercayaan publik,” lanjutnya.

Lebih lanjut, dia mengatakan bahwa elektabilitas Jokowi Dodo berdasarkan survei di daerah Banten hanya mencapai 9 persen saja, sehingga hal tersebut yang menyebabkan Jokowi mencari issue lain untuk meningkatkan suara pada pilpres 2019.

“Beliau mengaku sendiri bahwa di Banten surveinya 9% dan itu kaitannya. Tidak bisa dipungkiri bahwa merasa perlu melakukan ekspresi peningkatan suara,” jelasnya.

“Itu wajar saja dalam kontestasi politik. Tetapi juga harus memiliki strategi yang mampu meyakinkan rakyat, bahwa beliau makin dicintai rakyat atau enggak,” lanjutnya.

Kendati demikian, Ali menilai bahwa etika politik diantara kedua pasangan calon yaitu Prabowo-Sandi dan Jokowi-Ma’ruf kian berkurang, karena keduanya saling serang menggunakan teknik retorikanya masing-masing.

“Saya kira yang saya lihat sekarang ini etika politik kedua calonnya dan pendukung calon sudah mulai berkurang. Saling menuduh saling memfitnah saling merasa benar,” tutupnya. (Anas)

suaraindonesia

LEAVE A REPLY