Kisah Soejatno, Penebar Semangat Tentara Melalui Koran Perjuangan

0
351
Soejatno, veteran perang kemerdekaan
Soejatno, veteran perang kemerdekaan

Pacitan,Nawacita – Tangan pria tua itu bergerak kesana kemari. Suatu ketika telunjuknya berhenti di salah satu arah mata angin. Seakan ingin menggores lagi guratan peristiwa di suatu tempat dan suatu waktu.

Mimik serius langsung tampak saat dirinya mengurai perjalanan hidup sebagai prajurit. Ceritanya runtut. Sesekali muncul dialog dalam Bahasa Belanda dia tuturkan ulang. Dia melafazkannya dengan fasih.

“Saya pertama kali di angkat menjadi prajurit Angkatan Udara pada tahun 1946,” tutur Soejatno (92) mengawali cerita saat ditemui detikcom di rumahnya, Desa Banjarsari, Kecamatan Pacitan, Sabtu (10/11/2019).

Tak berselang lama sejak dirinya menjadi tentara pergolakan pecah di Yogyakarta. Ini berawal dari pendaratan pasukan Belanda di lapangan udara Maguwo. Serdadu penjajah tersebut lantas merangsek masuk merebut kota.

Kedatangan Belanda yang tak terduga membuat pasukan republik menempuh siasat lain. Ini seperti dilakukan Soejatno dengan beberapa rekannya. Mereka memilih meninggalkan Yogyakarta menuju arah timur laut. Tujuannya kota Solo.

Perjalanan penuh risiko itu membawa Soejatno muda hingga ke Desa Gombang, Kecamatan Sawit, Kabupaten Boyolali. Di wilayah kecamatan tersebut Soejatno bertahan selama beberapa waktu. Hingga akhirnya dirinya diterima menjadi anggota koramil.

Di kesatuan tersebut Soejatno berkenalan dengan pekerjaan baru. Tak lagi memanggul senjata. Tapi berkutat dengan rangkaian kata-kata. Semua dia tuangkan dalam secarik kertas berukuran folio. Terbit harian menyajikan aneka warta.

“Meskipun hanya selembar tapi saya menyebutnya koran harian. Isinya berita lokal, nasional, dan internasional,” imbuhnya terkait terbitan tersebut.

Niatnya menerbitkan media cetak dilandasi cita-cita luhur. Soejatno ingin masyarakat mengetahui tiap perkembangan yang terjadi. Terlebih kala itu belum banyak media massa di tanah air.

Untuk memperkaya isi koran, Soejatno dibantu 2 orang jurnalis. Masing-masing Ciptoning dan Dimo. Nama terakhir adalah seorang guru. Dimo yang rutin pulang ke Solo selalu membawa oleh-oleh koran berbahasa Belanda ‘De Locomotief’.

“Saya senang sekali dibawakan koran De Locomotief. Beritanya lalu saya terjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Untuk penulisannya dibantu juru ketik bernama Mbak Kamti,” papar Soejatno yang duduk pada posisi redaktur.

Tak hanya mengandalkan hasil liputan maupun terjemahan dari koran asing. Putra pasangan Senen Sastrodiwiryo dan Waliyem itu juga kerap menuangkan idenya dalam bentuk tulisan. Bahkan kerap menghabiskan satu halaman belakang.

Tulisannya banyak bermuatan ilmu pengetahuan. Termasuk di antaranya mengajak masyarakat meninggalkan mitos yang merugikan. Goresan tintanya juga kerap mengobarkan semangat patriotisme dan membangun kesadaran sebagai bangsa.

Tak mudah menjadi aktivis media kala itu. Karena alasan keamanan personel di dalamnya lazim menggunakan nama samaran. Soejatno sendiri menyamarkan namanya menjadi Swee Jat Nio. Sebutan yang identik dengan sosok perempuan Tionghoa.

Alkisah, suatu hari datanglah seorang pemuda ke kantor redaksi yang tak lain Koramil Sawit. Setelah berbasa-basi selama beberapa menit, si pemuda tampan lantas menanyakan keberadaan Swee Jat Nio. Rupanya dirinya penasaran dengan sosok yang baru bisa dibayangkan parasnya.

“Jadi begitu tahu bahwa gadis yang dibayangkannya ternyata berkumis, pemuda itu langsung kabur sambil marah-marah,” kenang Soejatno sambi terkekeh.

Kendati tak berumur panjang, namun media cetak yang terbit harian itu sukses membawa pesan perjuangan bagi rakyat. Semua kepala desa di kecamatan itu menjadi pelanggan setia. Informasi yang mereka terima lantas diteruskan berantai kepada masyarakat.

Suatu ketika serombongan pasukan Tentara Pelajar singgah ke Koramil Sawit. Mereka hendak melanjutkan pertempuran ke Solo. Soejatno pun menyatakan keinginannya bergabung dengan pasukan tersebut. Tekadnya kian bulat setelah tahu ada 1 unit senjata yang belum terpakai.

“Saya kembali memanggul senjata. Bergabung dengan pasukan Tentara Pelajar. Tugas kami berikutnya menghadang pasukan Belanda yang hendak meninggalkan Jogja menuju Semarang,” terang penyuka lagu-lagu The Beatles ini.

Seiring berakhirnya masa agresi militer Belanda kedua, Soejatno kembali bergabung ke TNI AU. Dia pun berkesempatan digembleng menjadi ahli radio. Sejumlah tugas berat pun pernah dia emban. Mulai dari Bandung, Jakarta, Medan, Kupang, hingga Malang.

Tahun 1970 Soejatno ditugaskan di Lanud Iswahjudi, Madiun. Dirinya berdinas selama 2 tahun di tempat tersebut sebelum akhirnya mendapat tugas baru. Yakni mengembangkan Lapangan Udara di tanah kelahirannya.

“Perintah komandan seperti itu. Saya hanya bisa jawab ‘Siap’. Lalu saya mohon diberikan 11 anak buah. Permintaan itu dikabulkan,” ujar pria kelahiran Desa Tanjungsari, Pacitan (25/9/1926) tersebut.

Soejatno pensiun tahun 1978 dengan pangkat kapten. Selama hampir 40 tahun, bahtera rumah tangga dia bangun bersama sang istri, Kun Marlince. Sayang, wanita Pasuruan itu lebih dulu berpulang menghadap Sang Pencipta.

Soejatno sadar di hari tua dirinya butuh pendamping. Pertemuannya dengan perempuan asal Desa Banjarsari bernama Sumarmi membawa mereka ke pelaminan. Pasangan beda usia tersebut menikah tahun 2005. Keduanya dikaruniai anak laki-laki yang mereka beri nama Trihatmoko Yudo Saputro (13).

“Nama Yudo itu karena anak tentara,” sahut Sumarmi yang duduk di samping suaminya.

Di rumah sederhana diapit pohon mangga dan rambutan, Soejatno menghabiskan sisa usia. Sungguhpun tubuh makin renta termakan usia, sorot penuh semangat masih terpancar dari balik kaca mata yang dia kenakan.

Burung aneka jenis, ternak ayam, juga angsa di halaman. Itu seakan membuktikan jika Soejatno tak ingin membiarkan waktu terbuang sia-sia. Kesibukan lainnya membaca dan ikut kegiatan di koperasi TNI AU.

dtk

LEAVE A REPLY