Benarkah Nyak Sandang Penyumbang Pesawat Pertama Indonesia?

0
313
nyak Sandang dan Jokowidodo
nyak Sandang dan Jokowidodo

Jakarta, Nawacita – Nama Nyak Sandang akhir-akhir ini ramai dibahas di sejumlah media. Pria 91 tahun asal Aceh itu dianggap ikut menyumbang untuk membeli pesawat pertama RI, Seulawah RI-001.

Namun, sejarawan Asvi Asvi Warman Adam mempertanyakan kebenaran tersebut. Menurutnya, Nyak Sandang ikut membeli obligasi yang dikeluarkan pemerintah tahun 1950, sementara ‘patungan’ membeli pesawat itu dilakukan tahun 1948.

“Tahun 1948 Presiden Soekarno berkunjung ke Kutaraja (Aceh), di sana dia menyatakan Indonesia butuh pesawat,” ujar Asvi saat dihubungi detikcom, Senin (26/3/2018).

Asvi menjelaskan, patungan membeli pesawat tahun 1948 itu tak hanya dilakukan di Aceh, juga beberapa wilayah lain. Terkumpul sekitar SGD 120.000 dan dibelikan pesawat pertama RI.

Sementara itu cerita Nyak Sandang, menurut Asvi, mengacu pada pembelian obligasi tahun 1950. Nyak Sandang disebutkan membeli obligasi senilai Rp 100.

“Waktu tahun 1950 itu Nyak Sandang ikut membeli obligasi itu. Rp 100 untuk ukuran 1950 sudah sangat besar,” ujar Asvi.

Nyak Sandang sempat menunjukkan surat obligasi yang dia punya saat bertemu Presiden Joko Widodo di Istana Negara.

Asvi menuturkan, obligasi yang dikeluarkan pemerintah kala itu bukan untuk membeli pesawat, tapi untuk biaya pembangunan secara umum. Mengingat Indonesia merupakan negara yang baru merdeka dan butuh banyak dana untuk membangun.

“Seakan-akan peristiwa tahun 1948 itu sama dengan tahun 1950. Itu yang saya ingin diluruskan. Saya jadi mempertanyakan apakah dia ikut menyumbang (di 1948). Karena pesawatnya itu sudah dibeli tahun 1948, sedangkan obligasi baru tahun 1950,” tutur Asvi.

Tetap Perlu Diapresiasi

Meski begitu Asvi menilai apa yang dilakukan pemerintah dalam memperlakukan Nyak Sandang perlu diapresiasi.

“Bahwa dia ikut diapresiasi itu layak dihargai, dia ikut membeli obligasi itu, dan kalau ada perhatian dari pemerintah terhadap orang-orang seperti itu menurut saya layak,” jelas Asvi.

Niatan Nyak Sandang yang ingin naik haji dan bisa kembali mendapatkan penglihatan normal untuk dapat membaca Alquran lagi juga layak dibantu. Apalagi Nyak Sandang menyatakan pernah berperan mengusir belanda dan bahkan sempat ikut dipenjara.

Sebagai kepala kelompok, Sandang bertanggung jawab penuh untuk pemantauan. Jika kapal Belanda muncul, maka dia segera mengabari pasukan lain yang bertahan di atas Puncak Gureutee di Aceh Jaya, Aceh. Kadang kala, dia kena semprot dari tentara di atas Gureutee karena terlambat melapor pergerakan penjajah.

“Kami berjuang dulu karena ingin mati syahid dan kedua ingin merebut merdeka dari Belanda,” ungkap Nyak Sandang ditemui di rumahnya di Desa Lhuet, Kecamatan Jaya, Aceh Jaya, Aceh, Selasa (7/3).

dtk

 

LEAVE A REPLY