Ratusan Pelajar Surabaya Ikuti Lomba Mengetik Teks Proklamasi

0
408
Lomba ketik teks proklamasi dengan mesin ketik manua
Lomba ketik teks proklamasi dengan mesin ketik manua

Surabaya, Nawacita– Ratusan siswa SMP Muhammadiyah 5 Surabaya mengikuti lomba mengetik naskah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, di halaman sekolah setempat, Selasa (15/8/2017).

Hal itu bertujuan untuk lebih mendekatkan siswa pada situasi asli bagaimana proses kemerdekaan itu diraih para pejuang. Karena di zaman serba digital ini, merasakan situasi tersebut dirasa sangat sulit.

Dengan menggunakan mesin ketik  manual, para peserta lomba yang terdiri dari kelas 1 sampai 3 itu dituntut untuk bisa menuliskan teks proklamasi dengan benar dan rapi. Termasuk juga tanda baca dan spasi, layaknya Moh Ibnu Sayuti Melik kala dulu. Sayuti Melik adalah tokoh yang mengetik teks proklamasi yang kemudian dibacakan oleh presiden Soekarno.

Meski terlihat gugup dan kesusahan, para peserta tetap semangat untuk menyentuhkan jemarinya di huruf-huruf pada mesin ketik. Seperti halnya Rendry Revansha Prasetyo siswa kelas 3 E yang juga menjadi peserta lomba. Ia mengakui bahwa mengetik manual beda dengan saat menggunakan laptop.

“Sedikit gerogi, tapi tetap berusaha. Alhamdulillah semua rapi namun ada satu kata yang salah,” tutur Rendy.

Meskipun lebih rumit, Rendy dapat menyelesaikan teks proklamasi itu hanya dengan waktu 5 menit dan tanpa mengganti kertas. “Dibandingkan mengetik dan mencetak kertas menggunakan printer lebih seru menggunakan mesin ketik manual ini, sensasinya seperti pemain film dokumenter saat peperangan dulu,” urainya.

Yang menjadi rumit lainnya, menurut Rendy, yakni setiap menulis satu kalimat, maka dirinya harus meletakkan posisi kertas yang telah menancap pada rol yang berfungsi untuk tumpuan.

Peserta lomba lainnya, Bagas Andrihastama siswa kelas 7 A engaku menyelesaikan teks proklamasi dengan waktu 2 menit 57 detik. Waktu mengetik pertengahan dia merasa tertantang dengan lomba tersebut.

“Seru sih, walaupun susah juga ngetiknya. Sambil bayangin saja dulu itu orang-orang kalau mau bikin surat susahnya seperti ini. Jadi kita harus bisa bersyukur terlahir di zaman yang serbah canggih ini karena membuat sebuah tulisan sangat mudah bahkan menggunakan handphone juga bisa di print,” ujarnya.

Guru Pendidikan Kewarganegaraan, Susetyowati mengungkapkan, melalui lomba ini para siswa diajarkan untuk dapat menghayati betapa sulitnya perumusan dan pengetikan sebuah naskah proklamasi untuk mempersatukan dan  memproklamirkan sebuah kemerdekaan negara Indonesia.

“Kita ingin mengajak para siswa untuk menengok masa lalu yabg belum adanya teknologi seperti saat ini. Dulunya naskah proklamasi harus diketik manual kemudian diperbanyak mengunakan kertas sid atau diketik Iagi berkali-kali, lalu naskah proklamasi kemerdekaan RI tersebut disebarluaskan ke seluruh wilayah Indonesia untuk menginformasikan jika bangsa Indonesia telah merdeka,” papar Setyo.

bj

LEAVE A REPLY