Monday, June 15, 2026

PDIP Kritik Koperasi Merah Putih yang Diseragamkan, Hasto: Harus Tumbuh Organik Sesuai Potensi Daerah

PDIP Kritik Koperasi Merah Putih yang Diseragamkan, Hasto: Harus Tumbuh Organik Sesuai Potensi Daerah

Blitar, Nawacita – PDI Perjuangan mengkritisi model pengembangan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih yang dinilai terlalu seragam dan cenderung dipaksakan dari atas. Partai berlambang banteng moncong putih itu menilai koperasi sebagai instrumen ekonomi kerakyatan seharusnya tumbuh secara organik sesuai kebutuhan dan potensi masing-masing daerah.

Kritik tersebut disampaikan Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, usai mengikuti Seminar Nasional Bulan Bung Karno di Blitar, Minggu (15/6/2026) malam.

Hasto menjelaskan, berdasarkan hasil evaluasi yang dilakukan dalam rapat kerja nasional partainya, program koperasi rakyat tidak bisa dibangun dengan pendekatan yang sama di seluruh wilayah Indonesia. Menurutnya, koperasi harus berkembang dari kebutuhan masyarakat dan ruang lingkup usaha yang memang telah tumbuh di daerah masing-masing.

“Program kerakyatan seperti koperasi itu harus muncul secara organik. Tidak bisa dipaksakan. Ini sebagai program perekonomian rakyat yang tumbuh secara organik, sesuai dengan kompetensi dalam ruang lingkup usaha rakyat, sesuai dengan kebutuhan Indonesia, tidak bisa diseragamkan,” kata Hasto.

Baca Juga: Hasto: Aspirasi Mahasiswa Soal MBG Harus Didengar dan Dievaluasi Pemerintah

Ia menilai setiap daerah memiliki karakteristik ekonomi yang berbeda sehingga memerlukan pendekatan pengembangan koperasi yang berbeda pula. Keunggulan suatu wilayah, kata dia, harus menjadi dasar dalam membangun kekuatan ekonomi rakyat melalui koperasi.

“Ada koperasi yang muncul dengan kekuatan di sektor kelautan, ada yang kuat dalam sektor kuliner, ada yang kuat dalam sektor pertanian, dalam sektor pariwisata. Jadi harus juga melihat keistimewaan dari setiap region yang kita perhatikan dalam kerangka pengembangan perekonomian rakyat,” jelasnya.

Hasto menambahkan, model koperasi yang terlalu seragam justru berisiko mengabaikan kebutuhan riil masyarakat. Ia menyoroti kecenderungan pembentukan koperasi yang diarahkan menyerupai jaringan ritel modern, padahal kebutuhan utama rakyat adalah penguatan kapasitas produksi dan usaha yang telah berkembang secara alami.

Menurut Hasto, pengembangan koperasi semestinya difokuskan pada penguatan pelaku usaha rakyat dan kewirausahaan lokal agar mampu menjadi motor penggerak perekonomian daerah sesuai potensi masing-masing wilayah.

“Sepertinya koperasi itu semua menjadi model seperti Alfamart, padahal yang dibutuhkan rakyat adalah kemampuan produksi rakyat dalam berbagai aktivitas ekonomi yang telah tumbuh dan itu kemudian diperkuat. Jiwa-jiwa entrepreneur-nya, harusnya itu yang dilakukan, bukan sebagai program drop-dropan dari atas,” pungkasnya.

Reporter: Rovallgio

- Advertisement -
RELATED ARTICLES
Bank Jatim Jconnect

Terbaru