Thursday, May 7, 2026

Frank & co. Rayakan 30 Tahun, Bidik Konsumen lewat Emosi dan Gaya Hidup

Frank & co. Rayakan 30 Tahun, Bidik Konsumen lewat Emosi dan Gaya Hidup

SURABAYA, Nawacita – Memasuki usia ke-30 tahun, Frank & co. tak hanya menjual perhiasan, tetapi juga pengalaman dan citra gaya hidup. Lewat pameran spesial di Tunjungan Plaza, brand perhiasan ini mencoba menjaga eksistensi di tengah perlambatan ekonomi global dan perubahan tren konsumen.

General Manager Frank & co., Rolly Soesanto, menyebut pameran ini dirancang bukan sekadar etalase produk, melainkan ruang interaktif untuk mendekatkan brand dengan publik. Mulai dari Diamond Masterclass, pertunjukan musik, hingga penampilan Raisa disiapkan untuk menarik pengunjung.

“Kita ingin orang bukan cuma datang membeli, tapi juga belajar memilih berlian dan memahami perbedaannya,” ujarnya, Kamis (7/5/2026).

Di tengah maraknya lab-grown diamond, Frank & co. tetap menonjolkan koleksi berlian alami serta lini signature seperti Frank Fire Collection. Selain itu, kolaborasi dengan Monica Ivena menjadi strategi baru untuk membidik pasar cincin pernikahan.

Baca Juga: Daftar Batu Permata Termahal di Dunia, Ada Yang Tembus Rp841 Miliar per Karat

Menurut Rolly, segmen wedding ring dipilih karena menjadi pintu masuk utama konsumen ke dunia perhiasan berlian. “Entry point paling kuat tetap cincin nikah,” katanya.

Di balik kemewahan industri perhiasan, ada strategi bisnis yang semakin realistis: menjaga loyalitas pelanggan lama sambil memburu konsumen baru lewat figur publik dan pengalaman emosional.

Nama Maudy Ayunda pun dipilih bukan tanpa alasan. Frank & co. menilai sosok publik figur kini bukan sekadar wajah promosi, tetapi representasi nilai brand—mulai dari citra elegan, intelektual, hingga isu keberlanjutan.

Meski tren terus berubah, Rolly menilai selera pasar perhiasan masih bertumpu pada desain sederhana, klasik, dan bernilai warisan. “Orang beli berlian itu untuk legacy,” ujarnya.

Di titik ini, pameran 30 tahun Frank & co. bukan hanya soal selebrasi usia brand. Ia juga menjadi cermin bagaimana industri perhiasan bertahan: menjual simbol emosi di tengah pasar yang makin rasional.

(Alus)

- Advertisement -
RELATED ARTICLES

Terbaru