Indonesia dan Amerika Serikat Tingkatkan Kerja Sama Pelestarian Warisan Budaya
JAKARTA, Nawacita – Pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat meningkatkan kerja sama strategis dalam pelestarian warisan budaya, serta perluasan akses publik terhadap pengetahuan guna membangun jembatan pemahaman yang lebih erat antara masyarakat kedua negara.
Langkah itu menjadi bagian penting dari diplomasi budaya Indonesia di tingkat global melalui penguatan kapasitas institusi kebudayaan domestik.
Duta Besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat, Indroyono Soesilo, menegaskan museum memiliki peran yang sangat strategis sebagai ruang dialog, pendidikan, dan pertukaran gagasan lintas budaya.
Melalui kemitraan yang terjalin, ia berharap aspek kelembagaan dan pengelolaan permuseuman di tanah air dapat terus berkembang pesat.
“Melalui kemitraan antar museum, kita tidak hanya memperkuat kapasitas institusi budaya, tetapi juga membangun jembatan pemahaman yang lebih erat antara masyarakat Indonesia dan Amerika Serikat,” ujar Dubes Indroyono Soesilo.
Baca Juga: Presiden Steinmeier Optimistis Masa Depan Hubungan Indonesia-Jerman
Pernyataan tersebut disampaikan Dubes Indroyono dalam pertemuannya dengan jajaran Smithsonian Institution di Washington, D.C., Amerika Serikat.
Pertemuan itu menindaklanjuti komitmen bersama antara Museum dan Cagar Budaya Indonesia dengan National Museum of Asian Art (NMAA), Smithsonian Institution, yang sebelumnya telah mengesahkan Memorandum of Understanding (MoU) kolaborasi jangka panjang pada tahun 2023.
Senada dengan hal tersebut, Direktur National Museum of Asian Art, Chase Robinson, menyampaikan bahwa kolaborasi itu bertujuan untuk mentransformasi museum menjadi ruang hidup yang dinamis.
“Melalui pertukaran pengetahuan, kolaborasi profesional, dan pemanfaatan teknologi, museum dapat memperluas akses publik serta memperkuat pemahaman lintas budaya di tingkat global,” kata Chase Robinson.
Sebagai implementasi konkret dari kesepakatan tersebut, kedua pihak akan menggelar kegiatan Museum Capacity Building Workshop pada 22–26 Juni 2026 yang dipusatkan di Museum Nasional Indonesia, Jakarta.
Lokakarya itu akan melibatkan sekitar 30 peserta dari berbagai institusi kebudayaan nasional, termasuk Galeri Nasional Indonesia, Museum Batik Indonesia, hingga Museum Kepresidenan RI (Balai Kirti), guna membahas isu strategis mulai dari konservasi berbasis riset hingga pemanfaatan teknologi digital.


