Idealkah Anak Masuk SD di Usia 5,5 Tahun? Begini Penjelasan Pakar IPB
Jakarta, Nawacita | Di berbagai daerah kini tengah membuka Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB). Dalam SPMB jenjang SD, anak berusia 5 tahun 6 bulan hingga 6 tahun ternyata sudah boleh mendaftar.
Hal tersebut sebagaimana tertuang dalam Permendikdasmen Nomor 3 Tahun 2025 tentang Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB). Disebutkan bahwa anak berusia 5 tahun 6 bulan hingga di bawah 7 tahun bisa mendaftar, tetapi prioritas tetap mendahulukan anak berusia 7 tahun atau 7 tahun ke atas.
Batas usia anak yang masuk SD ini kemudian banyak disorot. Apakah anak dengan usia tersebut sudah siap masuk sekolah?
Pakar pengasuhan dan perkembangan anak dari IPB University, Prof Dwi Hastuti, menyebut bahwa usia bukan satu-satunya hal yang harus dipertimbangkan. Menurutnya, usia ideal anak masuk SD berada pada usia 6 tahun.
Pada usia tersebut, anak sudah mengalami masa transisi dari kanak-kanak menuju masa sekolah. Mereka biasanya sudah memiliki kematangan dalam berpikir serta emosional mereka.
Baca Juga: SPMB Jatim 2026 Jenjang SMA-SMK Dibuka 11 Juni, Ini Tahapannya
“Kalau ada anak usia 5,5 tahun yang sudah menunjukkan kematangan sosial, emosional, dan kemandirian yang baik, mungkin bisa menjadi pengecualian. Namun secara umum, anak usia 5,5 tahun masih banyak yang belum cukup matang untuk menghadapi tuntutan sekolah dasar,” ujarnya, dikutip dari laman IPB University, Rabu (17/6/2026).
Menurut Tuti, kesiapan anak tidak bisa hanya diukur dari kemampuan mereka menulis, membaca atau berhitung. Setidaknya, ada enam aspek yang jauh lebih penting.
Mulai dari aspek kognitif, sosial, emosional, fisik/motorik, moral/spiritual, dan bahasa. Keenam aspek ini memiliki perannya masing-masing.
Misalnya, dari sisi kognitif, anak yang siap biasanya sudah mampu berpikir lebih konkret, rasa ingin tahu tinggi, dan mulai bisa berpikir kritis.
Lalu dari segi fisik dan motorik, anak biasanya sudah bisa melakukan beragam aktivitas secara mandiri. Misalnya, mencuci tangan, menggunakan toilet, dan mengikuti instruksi sederhana.
Adapun dari aspek sosial dan emosional, anak telah mampu bekerja sama, berbagi, berempati, dan menghormati orang lain. Mereka juga sudah bisa mengendalikan emosional dengan lebih baik.
Baca Juga: KPK Ingatkan Bahaya Pungli dalam SPMB, Stop Normalisasi Kecurangan di Dunia Pendidikan
Tuti menuturkan bahwa aspek-aspek tersebut menjadi bekal penting agar anak bisa beradaptasi dengan baik. Pasalnya, ada sederet risiko yang bisa timbul jika anak masuk SD padahal ia belum siap.
Contohnya, rasa percaya diri karena merasa tertinggal. Kondisi tersebut tidak baik karena akan memicu perasaan minder, stres, dan memicu dirinya menjadi korban perundungan.
“Yang perlu dibangun pada anak bukan hanya kemampuan akademik, tetapi juga keterampilan hidup seperti percaya diri, empati, kemampuan mengendalikan diri, dan toleransi. Fondasi inilah yang akan mendukung keberhasilan anak dalam jangka panjang,” jelasnya.
Tuti berpesan kepada orang tua agar dapat memastikan anaknya benar-benar siap saat memasuki SD. Orang tua perlu mengecek secara menyeluruh, tidak hanya mempertimbangkan kemampuan akademik saja.
“Lebih baik anak masuk SD ketika ia sudah matang, mandiri, dan percaya diri. Tujuan pendidikan bukan sekadar membuat anak cepat sekolah, tetapi membantu mereka tumbuh menjadi pribadi yang berkembang secara optimal,” tutupnya. dtk


