Program Makan Gratis Disorot, DPRD Jatim Ingatkan Bahaya Tikus dan Limbah Makanan
Surabaya, Nawacita.co – Munculnya kasus hantavirus mulai menjadi perhatian serius kalangan legislatif di Jawa Timur. Anggota Komisi E DPRD Jatim dari Fraksi Gerindra, dr. Benjamin Kristianto, mengingatkan bahwa penyebaran virus tersebut tidak terjadi melalui udara seperti Covid-19, melainkan lewat kontaminasi makanan oleh tikus.
“Virus yang dibawa tikus dapat menular melalui urine, liur, hingga kotoran yang mencemari makanan. Dampaknya tidak main-main,” ujar Benjamin, Kamis (14/5/2026).
Ia menjelaskan bahwa hantavirus bisa menyerang paru-paru hingga menyebabkan sindrom pulmonik dengan tingkat kematian mencapai 60–80 persen. Sementara tipe lain menyerang ginjal melalui hemorrhagic fever with renal syndrome dengan fatalitas sekitar 15 persen.
“Ini bukan penyakit yang hanya mengancam lingkungan kumuh. Kasus di kapal pesiar membuktikan kelompok menengah atas pun bisa terkena,” imbuh Benjamin.
Ia menilai ancaman terbesar justru datang dari rendahnya kesadaran menjaga kebersihan lingkungan dan pengelolaan sampah makanan. Benjamin secara khusus menyoroti sektor kuliner, mulai warung kecil, kafe, restoran, hotel hingga kapal pesiar agar lebih disiplin menjaga higienitas.
“Jangan sampai orang lagi nongkrong ngopi, pulangnya malah sakit karena lingkungan makanannya tidak bersih,” katanya.
Benjamin juga mengingatkan potensi bahaya dalam pelaksanaan program makan gratis di sekolah jika sisa makanan dan pengelolaan sampah tidak diawasi serius. Menurutnya, tumpukan sisa makanan berpotensi mengundang tikus sebagai pembawa virus.
“Bukan salah program makan gratisnya, tapi kalau pengelolaan limbah dan kebersihannya buruk, itu bisa jadi celah penyebaran penyakit,” tegasnya.
Ia menduga kasus hantavirus di Indonesia masih seperti fenomena gunung es. Minimnya alat deteksi membuat jumlah kasus riil diduga lebih besar dibanding yang tercatat saat ini.
Karena itu, Benjamin meminta rumah sakit dan dinas kesehatan meningkatkan kewaspadaan serta memperkuat langkah preventif dan promotif di masyarakat.
“Yang paling realistis sekarang adalah edukasi dan menjaga kebersihan lingkungan. Jangan tunggu wabah besar baru bergerak,” tutupnya.

