Mahasiswa PAI UNUGIRI Bojonegoro Bedah Buku Kearifan Lokal, Karya Akan Disampaikan ke Bupati
Bojonegoro, Nawacita – Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Tarbiyah Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (UNUGIRI) Bojonegoro menggelar bedah buku bertema kearifan lokal atau local wisdom yang berlangsung di Auditorium Hasyim Asy’ari, Gedung Rektorat lantai 3, Rabu (13/5/2026).
Kegiatan yang dikemas bersama guest lecture tersebut menghadirkan Kepala Bidang Perpustakaan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Bojonegoro, Titis Anganten Wiyanti, serta penulis buku “Bodjonegoro Tempo Doeloe”, Nanang Fahrudin, sebagai narasumber. Selain itu, mahasiswa dari kelas A hingga E turut menjadi pemateri, yakni Maulidatuz Zakia, Muhammad Nasirul Umam, Anti Nabila, Andrian Hapy IM, dan Shofi Fitriani. Acara ini diikuti ratusan mahasiswa.
Ketua panitia, Elistina dari kelas C, menjelaskan bahwa buku yang dibedah merupakan hasil luaran mata kuliah Jurnalistik. Menurutnya, dalam perkuliahan mahasiswa tidak hanya mempelajari teori menulis dan penyusunan berita, tetapi juga diajak mendokumentasikan budaya desa masing-masing ke dalam bentuk buku.
“Melalui kegiatan ini kami mendapat tambahan wawasan, manfaat, sekaligus motivasi untuk terus berkarya,” ujarnya.
Kaprodi PAI, Su’udin Aziz, dalam sambutannya menyampaikan bahwa buku antologi kearifan lokal tersebut memuat berbagai khazanah budaya desa yang ditulis mahasiswa. Isi buku mencakup sejarah desa hingga tradisi lokal seperti wiwitan, gumbregan, jedoran, dan berbagai budaya lain yang masih hidup di masyarakat.
Ia menilai karya mahasiswa tersebut memiliki nilai kontribusi bagi pelestarian budaya lokal. Karena itu, hasil penelitian mahasiswa rencananya akan disampaikan kepada Pemerintah Kabupaten Bojonegoro sebagai bagian dari dokumentasi tertulis budaya daerah.
“Saya berencana menyowankan hasil karya kearifan lokal mahasiswa Prodi PAI ini kepada Bupati Bojonegoro,” kata Su’udin.
Mahasiswa Kelas D, Felix Aditya Hariyanto, mengaku bangga karena karya tulis mahasiswa dapat diterbitkan menjadi buku melalui mata kuliah Jurnalistik. Menurutnya, proses penulisan hingga bedah buku menjadi pengalaman berharga karena tulisan mahasiswa tidak berhenti sebagai tugas kuliah, melainkan dapat dibaca dan diapresiasi publik.
Ia juga mengajak mahasiswa lain untuk terus semangat menulis dan berkarya tanpa takut memulai. Sebab, setiap tulisan dinilai memiliki manfaat dan nilai tersendiri.
“Program seperti ini bisa menjadi kesempatan untuk mengembangkan kreativitas, kemampuan literasi, serta keberanian menyampaikan ide,” tuturnya.
Pendapat serupa disampaikan Irma Erfiyana dari kelas E. Ia menilai kegiatan bedah buku dan guest lecture berlangsung menarik dan menyenangkan karena mahasiswa dapat mengetahui isi buku karya teman-temannya sekaligus aktif berdiskusi.
“Saya tidak hanya mendengar penjelasan, tetapi juga bisa berdiskusi bersama-sama,” ungkapnya.

