Saturday, May 9, 2026

PCU-Ciputra Ajak Mahasiswa Rancang Bangunan Tangguh Bencana dengan Teknologi VR dan AR

PCU-Ciputra Ajak Mahasiswa Rancang Bangunan Tangguh Bencana dengan Teknologi VR dan AR

Surabaya, Nawacita.co – Program internasional ini diselenggarakan oleh Petra Christian University (PCU) dan Universitas Ciputra, berkolaborasi dengan Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) dan Xi’an Jiaotong-Liverpool University. Bamboo Nation sendiri merupakan agenda tahunan yang diinisiasi UNPAR sejak 2014 dan telah digelar di berbagai kota dan negara.

Dosen Arsitektur PCU, Esti Asih Nurdiah, menyampaikan Workshop yang merupakan bagian dari komunitas Bambu Nation ini membawa misi mengajak publik melihat potensi bambu sebagai material konstruksi alternatif yang ramah lingkungan, fungsional, dan estetis.

“Bambu itu tumbuh cepat, mudah ditemukan di Indonesia, dan punya jejak karbon rendah. Dalam tiga hingga lima tahun saja sudah bisa dipanen, berbeda dengan kayu yang butuh lebih dari satu dekade,” jelas Esti (7/8/2025).

Ia menjelaskan tema workshop kali ini Kinetic Bambu Structure, struktur bambu yang bisa bergerak atau movable. Desain yang dikerjakan berbentuk barrel vault sederhana, mirip setengah tong, yang dirangkai dari batang-batang bambu. Meski konsepnya sederhana, manfaatnya luas, terutama untuk kebutuhan darurat seperti hunian sementara pascabencana.

Paramesti Yasmin, mahasiswa Arsitektur Petra angkatan 2023. (Sumber foto: Reporter Alus)

Yang menarik, proses desain dan konstruksi tidak hanya mengandalkan keterampilan manual, tetapi juga teknologi mutakhir. Peserta dibagi menjadi tiga kelompok, Kelompok VR (Virtual Reality) – merancang dan memvisualisasikan struktur secara imersif di dunia virtual.

Selain itu, kelompok AR (Augmented Reality) – memproyeksikan desain virtual langsung ke lingkungan nyata sebagai panduan pemotongan dan perakitan. Ke tiga kelompok Manual – mengerjakan konstruksi secara langsung tanpa bantuan teknologi.

Paramesti Yasmin, mahasiswa Arsitektur Petra angkatan 2023 yang tergabung di tim VR, mengungkapkan tantangan penggunaan teknologi. “VR itu keren untuk visualisasi, tapi sinkronisasi alat ke layar dan penerjemahan desain virtual ke dunia nyata kadang memakan waktu lama. Menurut saya, kelompok manual justru lebih cepat untuk proyek ini,” ujarnya.

Esti melanjutkan selama tiga hari pertama, peserta mendapatkan materi teori tentang bambu, mulai dari karakter material, teknik pengolahan, hingga potensi aplikasinya. Hari keempat, seluruh pengetahuan itu diuji di lapangan melalui proses pemotongan dan perakitan.

Ia mengungkapkan, hasil akhirnya bukan hanya bangunan eksperimental, tapi juga pengalaman kolaboratif lintas kampus dan lintas teknologi. “Kami ingin membuktikan bahwa bambu bukan sekadar material tradisional, tapi bagian dari masa depan arsitektur berkelanjutan,” tutup Esti.

Reporter: Alus

- Advertisement -
RELATED ARTICLES

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terbaru