Thursday, July 18, 2024
HomeDAERAHJATIMUpaya Tekan Angka Pengangguran, Pemkot Mojokerto Gelar Job Fair 2023

Upaya Tekan Angka Pengangguran, Pemkot Mojokerto Gelar Job Fair 2023

Upaya Tekan Angka Pengangguran, Pemkot Mojokerto Gelar Job Fair 2023

Mojokerto, Nawacita – Pemerintah Kota (Pemkot) Mojokerto menggelar Job Fair untuk bisa menekan angka Pengangguran Terbuka (TPT) di Kota Mojokerto. 30 perusahaan mengikuti Job Fair yang diselenggarakan di Mal Pelayanan Publik (MPP) Gajah Mada, Rabu (28/6/2023).

Wali Kota Mojokerto, Ika Puspitasari mengatakan penyelenggaraan Job Fair rangkaian Hari Jadi ke-105 Kota Mojokerto ini untuk memfasilitasi antara pemberi kerja dengan perusahaan. Kegiatan Job Fair juga sebagai upaya Pemda untuk menekan angka TPT di Kota Mojokerto.

“Data rilis dari Badan Pusat Statistik, jumlah TPT di Kota Mojokerto 5,05 persen atau sekitar 3.600 orang di akhir tahun 2022 lalu sehingga dalam dua tahun terakhir ini kita berupaya bagaimana bersama-sama memfasilitasi, semoga ikhtiar ini bisa menurunkan angka pengangguran di Kota Mojokerto,” ungkapnya.

Menurutnya, angka TPT memang sempat mengalami peningkatan jika dibandingkan sebelum terjadi Pandemi Covid-19. Sedangkan, peningkatan TPT tertinggi tahun 2020-2021 ketika awal terjadinya Pandemi. Jika dibandingkan dengan data BPS 2022 itu sudah mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

“Dari 304 peserta pelatihan sebelumnya, Alhamdulillah data terlaporkan sampai tahun 2023 ini sudah 70 persen mendapat pekerjaan dan di tahun 2023 ini, kita ikhtiar bersama agar tingkat pengangguran terbuka bisa turun dibawah lima persen. Semoga melakukan ikhtiar ini (Job Fair) bisa menurunkan tingkat pengangguran,” katanya.

Job Fair
Job Fair 2023, ribuan pencari pekerjaan yang antusiasme tinggi untuk mendapatkan pekerjaan. (Foto : dok. Kominfo kota Mojokerto)

Pemkot Mojokerto akan terus berupaya menurunkan TPT dengan menggelar pelatihan kerja berkolaborasi dengan Provinsi Jawa Timur selama dua tahun berturut-turut. Dari kuota 304 peserta tersebut, peserta mengikuti pelatihan berbasis kompetensi dengan kelulusan bersertifikat standar Nasional.

“Tahun ini kami memfasilitasi dengan kuota yang lebih tinggi, kita tingkatkan kuota menjadi 480 peserta dengan 30 jenis pelatihan dengan BLK Jatim,” ujarnya.

Beberapa angkatan kerja banyak yang memilih untuk menjadi tukang parkir. Denagn, alasan mereka menjadi tukang parkir terkait penghasilan yang sangat fantastis bahkan melebihi pekerja kantoran dan pengusaha.

“Pekerjaan non formal dipilih lantaran tidak membutuhkan melamar dan ijazah dan tidak mengeluarkan pikiran berlebih tapi dapat jauh lebih besar dibandingkan bekerja formal seperti yang sedang antre melamar pekerjaan. Ini akan menjadi rujukan kami ke BPS ketika melakukan sensus dan survei,” tegasnya.

Ning Ita menambahkan, pekerjaan non formal harus diakui karena bukan pengangguran. “Jadi tidak ada status namun faktanya penghasilan mereka jauh lebih besar daripada pekerja formal,” imbuhnya. Fio Atmaja

RELATED ARTICLES

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Terbaru