Tingkatkan Panen, Petani Buah Naga Gianyar Gunakan Sinar Lampu Listrik

Petugas PLN mengganti bohlam LED yang mati pada instalasi Electrifying Agriculture atau sistem perkebunan berbasis energi listrik di kebun buah naga (ilustrasi).
Petugas PLN mengganti bohlam LED yang mati pada instalasi Electrifying Agriculture atau sistem perkebunan berbasis energi listrik di kebun buah naga (ilustrasi).
top banner

Tingkatkan Panen, Petani Buah Naga Gianyar Gunakan Sinar Lampu Listrik

Gianyar, Nawacita | Petani buah naga di Desa Lebih, Kabupaten Gianyar, Bali, menggunakan metode penyinaran dari lampu listrik untuk meningkatkan hasil panen sehingga pendapatan bertambah.

“Semenjak kami memakai penyinaran lampu listrik, setiap bulan bisa panen buah naga, sebelumnya tidak tiap bulan bisa panen,” kata Gede Wahyu, seorang petani buah naga, Kamis (2/3/2023).

Gede Wahyu menjelaskan terdapat siklus musim panen buah naga yakni setiap Januari, Februari, Maret, April, September, Oktober, November dan Desember. Sisanya Mei, Juni, Juli dan Agustus praktis pohon buah naga tidak berbuah karena intensitas sinar matahari kurang maksimal.

Manajer komunikasi PLN UID Bali I Made Arya saat meninjau tanaman buah naga yang didukung PLN bali di desa Lebih, Kabupaten Gianyar, Bali.
Manajer komunikasi PLN UID Bali I Made Arya saat meninjau tanaman buah naga yang didukung PLN bali di desa Lebih, Kabupaten Gianyar, Bali.

“Buah naga ada musimnya, bulan yang ada “R”-nya dia berbuah, bulan yang tidak ada “R”-nya dia tidak berbuah. Jadi saya memasang lampu untuk mencukupi sinarnya, sehingga bisa panen setiap bulan dan dijual dengan harga yang tinggi,” kata Gede Wahyu yang akrab disapa Dinor Gen.

Gede Wahyu mengatakan terjadi peningkatan hasil panen hingga 100 persen setelah menggunakan sinar lampu di musim yang tidak seharusnya panen.

Selain itu kualitas buah naga yang ditanamnya juga ditunjang oleh penggunaan pupuk organik untuk menghasilkan buah yang sehat dan berkualitas. Dinor Gen menjelaskan bahwa pupuk organik dibuatnya sendiri.

“Bahan baku pokoknya dari kotoran kambing, daun layu, rumput, dan sabut kelapa sebagai sumber kalium. Semua bahan itu dicacah menjadi kecil dan dilakukan fermentasi selama dua minggu, kalau buat sendiri biayaproduksinya kan rendah, jadi keuntungan bisa tinggi,” kata Dinor Gen yang juga berprofesi sebagai arsitek.

Dalam satu bulan, omzet yang didapatkan Dinor Gen mencapai Rp15 juta – Rp 20 juta dari hasil panen buah naga yang mencapai satu hingga 1,5 ton.

“Sebenarnya banyak permintaan ekspor dari China dan Rusia tapi saya tahu diri, kadang untuk satu toko saja kekurangan buah. Satu hektare kebun yang saya miliki tidak bisa memenuhi kuota ekspor,” kata Dinor Gen.

Dalam melakoni budi daya buah naga organik ini, Dinor Gen mengatakan bahwa dia belajar secara otodidak. Ia berharap kebun ini bisa berumur panjang dan bisa berkembang karena kebun ini didirikan bersama keluarga.

Baca Juga: Mentan Minta Bulog Maksimalkan Penyerapan Gabah Petani

“Jadi bukan untuk kesejahteraan saya sendiri tapi keluarga saya bisa sejahtera juga,” kata Dinor Gen.

Sementara itu, Team Leader Layanan Pelanggan dan Administrasi PT PLN (Persero) Gianyar I Wayan Sukarna menjelaskan penyinaran lampu listrik untuk kebun buah naga di Gianyar tersebut dilayani melalui Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang dimiliki PLN.

“Ini sejalan dengan program PLN, namanya electricfying life. Khusus untuk buah naga, selain dia melakukan pemasangan listrik daya 1.300 VA untuk penerangan, kami memberikan bantuan sebesar Rp50 juta untuk mendorong pembangunan ekonominya,” kata I Wayan Sukarna. antr

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here