Mensos Cek Pencairan Bansos di Surabaya, Tawarkan Bantuan Usaha untuk Warga Terdampak Pandemi

0
124
Menteri Sosial Tri Rismaharini menyaksikan pencairan bantuan sosial berupa Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT)/Kartu Sembako, di Kota Surabaya dan Kabupaten Sidoarjo (27/12/21).

Surabaya, Nawacita – Menteri Sosial Tri Rismaharini menyaksikan pencairan bantuan sosial berupa Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT)/Kartu Sembako, di Kota Surabaya dan Kabupaten Sidoarjo. Mensos terus mendorong agar bansos segera cair mengingat bulan Desember segera berakhir.

Hari ini (27/12), Mensos memulai kunjungannya dengan mengecek pencairan bantuan di Kantor Kecamatan Tambaksari, dan Kantor Kelurahan Pakis, Kecamatan Sawahan, Kota Surabaya.

Tiba di Tambaksari, Mensos langsung menuju aula kantor kecamatan dimana proses pencairan bantuan berlangsung. Mensos mengecek data penerima bantuan. Kebanyakan Keluarga Penerima Manfaat (KPM) selain menerima PKH dan BPNT/Kartu Sembako.

“Ayo dicairkan semua ya. Yang lanjut usia kasih kesempatan dulu,” kata Mensos di hadapan petugas. Mensos juga mengecek buku tabungan para Keluarga Penerima Manfaat (KPM).

Beberapa KPM yang datang baik di Tambaksari maupun di Pakis, merupakan KPM perluasan. Yakni KPM yang tercatat sebagai peserta tambahan akibat terdampak pandemi. Dari informasi dan pengamatan, kata Mensos, banyak KPM yang mengira mereka hanya dapat satu jenis bantuan

“Padahal mereka mendapatkan PKH dan BPNT/Kartu Sembako. Yang diambil hanya PKH. Mereka boleh dapat dua-duanya. Tapi tidak boleh kalau merangkap BST (Bantuan Sosial Tunai),” katanya.

Kepada KPM yang telah menyelesaikan transaksi, Mensos meminta mereka agar memanfaatkan bantuan dengan baik dan sesuai keperluan. Bisa untuk membeli sembako, kebutuhan sekolah atau modal usaha.

“Jangan untuk membeli rokok atau keperluan lain yang tidak produktif,” kata Mensos. Dalam kesempatan berkunjung di dua tempat, Mensos juga mendatangani KPM satu persatu yang duduk dengan rapi.

Kepada mereka, Mensos bertanya siapa saja yang berniat bekerja atau mendirikan usaha kecil sendiri. “Ayo yang mau usaha siapa. Atau mau bekerja. Nanti saya bantu. Daripada mengandalkan bantuan, hanya dapat Rp300 ribu,” kata dia.

Mensos bertanya satu-satu sambil berkeliling dari kursi ke kursi. Kepada jajaran Pemkot Surabaya, Mensos menekankan kebijakan Kemensos yang siap memberikan bantuan kepada Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS). Selain dengan bansos, juga bisa diberikan bantuan usaha dan peralatan aksesibilitas.

“Saya lihat banyak KPM yang masih muda. Kalau diberi kesempatan berusaha, mereka bisa lebih produktif, kapasitas keuangan mereka lebih besar,” kata Mensos.
Di antara yang meminta bantuan usaha adalah Ciptayanto. Pria 31 tahun ini mengaku sudah lama menganggur. Dia sempat bekerja dua bulan sebagai sales pabrik garmen, namun kena PHK.

“Saya minta supaya bisa dibantu usaha pracangan (toko kelontong) di rumah. Biar istri saya yang nungguin. Nanti saya kerja di tempat lain supaya pendapatan bertambah,” kata ayah dua anak lulusan SMA ini.

Hal sama disampaikan Kiki Indraputra. Warga Kelurahan Jagiran ini sebelum bekerja sebagai petugas kebersihan di toko swalayan. Namun sejak 6 bulan lalu, lulusan SMA ini kena PHK.

“Sekarang saya jadi pengemudi jasa pengantaran barang. Mau kerja yang pendapatannya lebih pasti. Apa saja. Terima kasih Bu Risma,” kata pria beranak dua ini.

Suka cita juga dirasakan KPM yang telah cair bantuannya, termasuk KPM PKH Siti Maryam. Mengantri sejak pagi, perempuan 36 tahun ini pulang membawa uang Rp2.250.000. “Alhamdulillah, bantuan saya cair. Terima kasih untuk Bu Risma sudah diberikan bantuan,” kata warga Kelurahan Pacar Kembang, Kota Surabaya ini.

Nominal bantuan tersebut dirasakan cukup besar untuk Siti yang sehari-hari berjualan sosis bakar di depan SDN Pacar Keling 1. Apalagi suaminya kerja serabutan. ” Bojo kulo serabutan pak. Nggih dekor, sak entene . (Suami saya kerja serabutan pak. Ya mendekorasi rumah, seadanya),” katanya.

Penghasilan dari jualan sosis bakar dan hasil kerja suami, tidak menentu. Kalau lagi rame, bisa dapat Rp300 ribu. “Tapi jarang pak. Apalagi lagi pandemi. Anak-anak sekolah juga belum masuk semua,” katanya.

Alma.

LEAVE A REPLY