KPAI Ungkap Korban Kekerasan Seksual Tertinggi di Sekolah Dasar

0
99
Komisioner KPAI Retno Listyarti, dalam diskusi 4 Pilar MPR RI dengan tema Mendorong Keberpihakan Negara dalam Perlindungan Anak, Jakarta, Senin (13/12/2021). Foto : Alma/nawacita

Jakarta, Nawacita – Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengungkapkan anak sekolah dasar (SD) menjadi korban paling banyak mengalami kasus kekerasan seksual sebesar 64,7 persen. Kemudian diikuti anak sekolah menengah pertama (SMP) sebesar 25,53 persen dan sekolah menengah Akhir (SMA) 11,77 persen.

“Untuk total kasus yang berdasarkan jenjang pendidikan, paling tinggi adalah SD yaitu 64,7%, kasus kekerasan seksual yang kedua adalah di SMP dan sederajat dengan kasus 23,53%, sedangkan di jenjang SMA atau sederajat itu kasusnya 11,77%,” kata Komisioner KPAI Retno Listyarti, dalam diskusi 4 Pilar MPR RI dengan tema Mendorong Keberpihakan Negara dalam Perlindungan Anak, Jakarta, Senin (13/12/2021). 

Lebih lanjut, Retno menjelaskan, berdasarkan data 2018-2019 kekerasan seksual yang terjadi pada anak paling tinggi pelakunya adalah guru sebesar 88 persen. 

“Untuk kekerasan terhadap anak data 2018-2019 sebesar 88 persen pelakunya adalah guru, 22 persen kepala sekolah, 40 persen guru olahraga dan 13,3 persen guru agama,” jelasnya. 

Rento mengatakan, lokasi kekerasan seksual di lingkungan sekolah biasanya terjadi di ruang kelas, ruang kepala sekolah, kebun sekolah, ruang laboratorium komputer, ruang ganti pakaian dan ruang perpustakaan. 

“Bahkan pada tahun 2018 ada kasus yang terjadi di ruang musala, ini adalah tempat-tempat di mana ketika kami datang, rata-rata tidak ada CCTV, mungkin ini penting juga untuk melihat ruang ruang atau tempat tempat yang bisa dipakai oleh pelaku,” ucapnya. 

Selain itu, ia menyebut, berbagai modus yang digunakan pelaku kekerasan seksual di sekolah diantaranya modus hafalan pelajaran hingga saat melakukan perkemahan dan pariwisata. 

“Ada guru ini pakai modus hafalan, anak-anak yang sudah hafal surat suruh masuk gudang dan tidak dicurigai juga oleh pihak sekolah, masuk gudang dan di dalam gudang itulah terjadi pelecehan seksualnya kemudian ruang BK dan juga terjadi di perkemahan serta di bus pariwisata,” ungkap Retno. 

Namun, saat ini kata Retno, banyak pelaku kekerasan seksual yang mengincar anak-anak melalui game online. Ia mencontohkan pelaku meminta foto atau video terhadap anak-anak dengan berkenalan dalam game 

“Orang orang pelaku ini, predator anak ini adalah orang dewasa yang mengincar anak-anak, anak-anak itu pertama diiming-imingi kalau dikasih diamond (mata uang dalam game) dengan syarat foto telanjang,” ujarnya. 

Oleh karena itu, Retno meminta kepada seluruh orang tua untuk dapat mengawasi gerak-gerik anak saat menggunakan media sosial khususnya game online. Sebab, saat ini maraknya kekerasan seksual terjadi pada dunia maya. 

“Inilah kewajiban kita mengontrol anak, namun di ruang publik seperti sekolah harusnya itu tidak terjadi, apalagi di sekolah boarding school atau sekolah berasrama seharusnya harus berlapis pengawasannya,” imbuh Retno.

Penulis: Alma Fikhasari

LEAVE A REPLY