Eri Cahyadi : Sekolah Tidak Diwajibkan Pake Seragam

0
120

Surabaya, Nawacita – Eri Cahyadi Wali Kota Surabaya menegaskan, sejak Senin (6/9/2021) kemarin, dia menjamin tidak ada lagi sekolah yang menjual seragam kepada siswa Mitra Warga dari keluarga masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Dia bahkan menegaskan, semua siswa bisa masuk sekolah tanpa seragam kalau yang bersangkutan memang belum punya.

“(Kemarin, Minggu 5 September) saya sudah sampaikan ke seluruh kepala sekolah, tidak ada lagi yang menjual seragam pada hari ini. Sehingga semua bisa masuk (sekolah), pakai seragam atau tidak pakai seragam, silakan,” ujarnya ketika mengudara di Radio Suara Surabaya.

Supaya hal itu tidak terjadi, Pemkot Surabaya dalam waktu dekat akan memberdayakan UMKM untuk membuat seragam dan atribut lainnya untuk memenuhi kebutuhan seluruh siswa Mitra Warga dan MBR. Selain itu, seragam dan atribut lain buatan UMKM juga untuk menyuplai koperasi sekolah.

Sebab, Eri menekankan, jenis dan harga seragam itu harus sama di setiap sekolah yang ada di Surabaya. Bahkan, dia meminta, kalau bisa harga seragam sekolah yang dijual di koperasi-koperasi sekolah itu harganya sama atau lebih murah dari harga seragam yang dijual di luar sekolah.

“Begitu juga untuk sepatu. Baik itu SD, SMP, harus sama semua. Tas juga harus sama. Nanti cuma tulisannya saja yang akan berbeda-beda. Saya sampaikan itu kepada semua kepala sekolah. saya tidak ingin ada perbedaan di bidang pendidikan: ketika sekolah anak-anak dibedakan antara yang kaya dengan yang miskin,” ujarnya.

Selama ini, kata Eri, fakta pembedaan di sekolah itu masih bisa ditemukan. Dia mencontohkan, untuk anak-anak dari keluarga yang berkecukupan, sepatunya akan lebih bagus, bermerek. Demikian juga tasnya. Sangat berbanding terbalik dengan anak-anak dari keluarga yang tidak punya.

“Terus gimana kita menunjukkan empati sebagai pemimpin kepada anak-anak yang akan menjadi pemimpin di masa depan? Makanya, kalau semua itu sama nantinya akan menimbulkan rasa kebersamaan, rasa percaya diri. Jadi saya tekankan seperti itu,” ujarnya.

Eri mengakui, sebelum Minggu (5/9/2021) kemarin, masih ada sejumlah siswa yang masuk dalam program Mitra Warga dari keluarga MBR yang tetap diminta membeli seragam dari koperasi sekolah yang total harganya juga tidak bisa dikatakan murah. Tapi Minggu kemarin, Eri mengaku sudah mengumpulkan semua.

“Tidak boleh lagi ada seperti itu. Nanti akan berhadapan dengan saya. Dengan pemkot surabaya. Saya tidak ingin itu. Bidang pendidikan ini tugasnya harusnya menciptakan kader bangsa yang hebat di kemudian hari dan kami siapkan menjadi seorang pemimpin. Jadi bukan hanya gara-gara seragam, sepatu, dan lain sebagainya muncul pembedaan-pembedaan, persaingan dan disparitas kaya dan miskin, yang tanpa sadar kita munculkan sejak mereka masih anak-anak. Ini yang mau saya hapus,” katanya.

Sumber : Suara Surabaya

LEAVE A REPLY