Ranup, Tradisi Penanda Mulia Di Bumi Muda Sedia

2
5508

Aceh, Nawacita – Ranup. Begitulah masyarakat suku Aceh menyebut tanaman yang biasa kita kenal dengan namasirih ini. Tak hanya di daerah dengan penduduk yang mayoritasnya bersuku Aceh, ranup juga dikenal oleh sebagian masyarakat Aceh Tamiang walaupun Aceh bukanlah suku mayoritas penduduknya.

Aceh Tamiang atau yang dikenal juga dengan nama ‘Bumi Muda Sedia’ ini adalah salah satu Kabupaten di Provinsi paling barat Indonesia (Aceh) yang berbatasan langsung dengan Sumatera Utara sekaligus menjadi pintu gerbang masuk dari Sumatera Utara ke Aceh. Daerah yang memiliki semboyan ‘Kaseh Pape Setie Mati’ ini merupakan kabupaten yang terdiri dari beragam etnis, antara lain, Tamiang (Melayu), Jawa, Minang, Aceh, Gayo, Batak, dan Tionghoa. Kemajemukan etnis ini menjadikan tamiang sebagai daerah yang kaya akan keberagaman budaya, salah satunya adalah budaya ranup yang dibawa olehmasyarakat suku Aceh sebagai salah satu dari tiga suku asli masyarakat Aceh Tamiang selain Tamiang (Melayu) dan Gayo.

Sebenarnya, tidak hanya pada masyarakat suku Aceh, sirih juga digunakan pada kebudayaan masyarakat suku Tamiang dan Gayo. Hal ini selaras dengan penggunaan tepak sireh pada lambang daerah Aceh Tamiang sebagai lambang adat dari 3 suku asli perkauman di Tamiang. Namun kali ini, yang akan dibahas lebih lanjut adalah kedudukan ranup dalam masyarakat suku Aceh.

Ranup atau sirih sendiri adalah tumbuhan herbal berdaun lebar yang hidup dengan cara merambat atau menjalar pada batang tumbuhan lain. Tumbuhan dengan segudang manfaat ini, sudah dikonsumsi masyarakat Aceh secara turun-temurun dengan cara membalut pinang, kapur sirih, gambir, dan cengkeh dengan daun sirih. Tidak hanya dikonsumsi semata, ranup juga digunakan masyarakat Aceh dalam acara-acara besar bahkan sejak zaman kesultanan Aceh.

Bagi masyarakat Aceh, ranup menduduki peranan penting dan memiliki beragam makna karena ranup diikutsertakan hampir di segala sendi kehidupan masyarakatnya. Mulai dari sebagai simbol memuliakan tamu, perdamaian dan kehangatan sosial, media atau simbol pembuka kegiatan atau komunikasi sosial, hingga penguat kata atau janji. Ranup yang disusun di dalam satu wadah atau yang disebut masyarakat Aceh dengan puan diartikan sebagai simbol sikap yang menjunjung tinggi nilai kebersamaan dan kerukunan hidup.

Keutamaan ranup bagi masyarakat suku Aceh diabadikan didalam syair Aceh yang berbunyi:

Mulia wareh ranup lam puan. Mulia rakan mameh suara’

(Memuliakan tamu dengan menyuguhkan sirih. Memuliakan teman lewat tutur kata yang manis).

Tak hanya itu, keramah-tamahan dan bentuk penghormatan masyarakat suku Aceh terhadap tamu serta pentingnya ranup juga dituangkan didalam sebuah tarian khas Aceh yang bernama Tari Ranup Lampuan. Hal ini sudah cukup membuktikan kepada kita bahwa masyarakat Aceh adalah masyarakat yang sangat memuliakan tamu sebagaimana yang diperintahkan oleh agama Islam, dan ranup adalah salah satu simbolnya.

Hingga saat ini, ranup masih dipergunakan oleh sebagian masyarakat suku Aceh dalam acara lamaran sampai acara pernikahan yang berlangsung di daerah Aceh Tamiang. Pihak keluarga laki-laki akan membawakan ranup yang sudah disusun diatas puan atau yang disebut juga suson ranup ke rumah keluarga wanita saat hendak menentukan tanggal pernikahan (pertunangan). Tak hanya sampai disitu, pada saat  acara pesta pernikahan pun, pihak pengantin pria (linto baro) juga akan membawa suson ranup kerumah pengantin wanita (dara baro) bersamaan dengan kedatangan rombongan linto baro yang akan disambut dengan Tari Ranup Lampuan oleh pihak keluarga dara baro.

Seiring berjalannya waktu dan masuknya pengaruh globalisasi, kegiatan atau hal-hal yang berbau adat sudah mulai ditinggalkan oleh masyarakat terutama oleh anak muda karena dianggap kuno. Untuk itu, timbullah sebuah gagasan untuk mengkreasikan ranup menjadi berbagai bentuk, mulai dari bentuk topi aceh, bunga, pintu aceh, dan lain sebagainya. Dengan begitu, anak muda yang pada mulanya sudah memalingkan wajah dari budaya ranup akan tertarik dengan keindahan dan keunikan bentuknya sehingga mulai mempergunaannya kembali.

Kebetulan, saya adalah salah seorang masyarakatAceh Tamiang yang membuat ranup hias, walaupun belum ahli. Dan kebetulannya lagi saya bukanlah bagian dari masyarakat suku Aceh. Karena menurut saya, kebudayaan yang harus dilestarikan bukan hanya sebatas yang diwariskan orang tua. Tetapi juga ada kebudayaan lain harus dipelajari dan dicari tau.

Tak hanya turut serta dalam melestarikan budaya, ranup kreasi juga dapat menjadi salah satu cara untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah. Bagaimana tidak, masyarakat suku Aceh yang hendak melamar atau melaksanakan acara pesta pernikahan dan enggan berepot-repot dalam proses pembuatannya, akan mencari pengrajin ranup hias. Harganya juga terbilang tinggi, apalagi bagi saya yang masih seorang mahasiswi. Mulai dari 200-500 ribu rupiah sesuai dengan tingkat kesulitannya. Bahkan bisa lebih, jika ranup kreasi dikerjaan oleh seorang professional.

Awalnya, saya belajar membuat ranup hias ini dengan bantuan kemajuan teknologi yang sudah adaseperti Google dan Youtube. Caranya pun terbilang mudah, hanya membutuhkan sedikit sabar dan keterampilan. Selebihnya? Tentu saja kemauan. Adapun alat dan bahan yang diperlukan adalah ranup, batang pisang, puan, jarum pentul, dan berbagai jenis bunga untuk meperindah tampilannya. Untuk proses pembuatannya, ranup akan disusun dan direkatkan dengan jarum pentul ke atas batang pisang sesuai dengan keinginan. Lalu hiasi dengan warna-warni bunga yang indah dan harum. Ranup hias pun selesai.

Ranup adalah salah satu kekayaan aceh yang harus terus dilestarikan agar tidak luntur tergerus kemajuan zaman. Dalam rangka melestarikan budaya ranup ini, saya mulai memperkenalkan ranup kepada adik-adik dan remaja disekitar lingkungan tempat tinggal agar mereka tidak merasa asing dengan budayanya sendiri. Selain itu, saya juga memperkenalkan cara menyusun sirih hingga menjadi ranup kreasi dengan beragam bentuk kepada ibu-ibu setempat agar ranup dapat terus dikembangkan dan dikenal luas oleh masyarakat, tidak hanya aceh, tetapi seluruh bumi nusantara, dan mendunia.

Penulis: Defa Fitria, IAIN Langsa.

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY