Pimpinan Komisi X Dukung Peningkatan Beasiswa Atlet

0
312
Wakil Ketua Komisi X Hetifah Sjaifudian

Jakarta, Nawacita – Saat ini dunia olahraga tengah menghadapi permasalahan yang cukup serius, diantanya belum terpenuhinya tenaga keolahragaan baik secara kuantitas dan kualitas. Hal itu diungkapkan Menteri Pemuda dan Olahraga Zainudin Amali dalam rapat bersama Komisi X DPR RI, Selasa (23/3).

Guna mengatasi permasalahan tersebut Hetifah Sjaifudian Wakil Ketua Komisi X dorong peningkatan beasiswa atlet.

“Untuk mencapai target prestasi jangka panjang, tentu saja diperlukan pendidikan olahraga yang memadai bagi atlet yang utamanya akan menjadi calon pelatih di masa depan. Selain itu, atlet telah menghabiskan banyak waktunya untuk berlatih, maka sudah seyogyanya kita berikan beasiswa sebagai bentuk apresiasi negara terhadap pengabdian mereka,” kata Hetifah, dalam keterangannya, Sabtu (27/3/2021).

Hetifah Sjaifudian juga menilai beasiswa terhadap atlet akan menjadi solusi jangka panjang bagi kebutuhan sport science dan kurikulum atlet.

“Dengan banyaknya lulusan pendidikan olahraga, sumber daya manusia Indonesia yang memahami sport science seperti fisiologi, teknik, serta nutrisi atlet juga akan meningkat. Mereka juga memiliki keilmuan yang mumpuni dalam menyusun kurikulum terkini bagi atlet. Saya rasa beasiswa atlet menjawab berbagai persoalan olahraga Indonesia,” paparnya

Politisi Golkar ini juga ingatkan pentingnya serapan tenaga keolahragaan melalui sistem rekrutmen yang lebih memadai.

“Sejauh ini, kita sudah memiliki cukup banyak lulusan pendidikan olahraga baik di universitas dalam negeri maupun luar negeri. Sayangnya, banyak dari mereka yang tidak terserap menjadi pelatih. Oleh karena itu, saya harap Desain Besar Olahraga Nasional dan juga RUU Sistem Keolahragaan Nasional dapat memperhatikan serapan tenaga pelatih olahraga. Karena tanpa adanya pelatih berkualitas, prestasi olahraga nasional juga akan sulit berkembang,” pungkasnya.

Terkait peningkatan beasiswa atlet, Hetifah mengatakan, akan dibuatkan kriteria khusus bagi penerimanya. Sebab hal itu berbeda dengan beasiswa pada umumnya yang berbasis pada IPK.

“Akan dibuat kriteria yang khusus karena pasti berbeda dengan beasiswa akademis pada umumnya yang berbasis IPK,” jelasnya.

Penulis: Alma Fikhasari

LEAVE A REPLY