ISP Surabaya, Komunitas yang Mengedukasi Saham kepada Investor Pemula

0
45

Surabaya | Nawacita – Kemerdekaan finansial. Melek investasi. Pensiun dini. Biarkan uang yang bekerja untuk Anda. Frasa-frasa tersebut barangkali kian akrab di telinga ketika kita ngobrol dengan teman lama yang kelihatannya sukses secara lahir. Frasa-frasa itu juga lebih sering berseliweran di media sosial, terutama setelah pandemi.

Di chat WhatsApp, di feed Instagram, di grup Telegram, ada saja yang menjual mimpi tentang pencapaian kemerdekaan finansial tanpa perlu capek-capek bekerja. Semua itu sangat bisa dicapai. Namun, tentu ada proses yang harus dilalui: belajar.

Jika seseorang memilih bermain saham, misalnya, untuk mencapai kemerdekaan finansial, tentu ada langkah-langkah yang harus dilakukan. Tidak bisa asal. ”Sejak pandemi ini, banyak teman yang post di story WhatsApp atau Instagram tentang portofolio sahamnya yang hijau-hijau. Waktu pasar bearish (tren melemah), enggak ada lagi yang post di story.

Lucu aja gitu,” gurau Arya Abu Hanifa, ketua Komunitas Investor Saham Pemula (ISP) Surabaya, pekan lalu (11/2).

Baca Juga : Kebakaran Ruko Sebelah Hokky Supermarket, Begini Situasinya

Sejak pandemi, dia melihat tren belajar tentang saham dan dunia finansial secara keseluruhan memang meningkat. Bukan hanya dari maraknya posting-an portofolio investasi di media sosial, tetapi juga munculnya influencer di media sosial yang mengarahkan pembelian saham-saham tertentu. Inilah yang selalu menjadi perhatian Komunitas ISP Surabaya, komunitas saham yang didominasi mahasiswa.

Komunitas yang didirikan pada 2015 itu selalu mewanti-wanti para anggotanya agar tidak terjebak saham-saham gorengan yang muncul akibat aktivitas bandar saham. Biasanya, para serigala bursa inilah yang melakukan berbagai cara untuk memompa harga saham (pompom saham).

Mayoritas sosok influencer saham dulu tidak diketahui alias anonim. Mereka menebarkan rekomendasi saham atau stock pick yang diprediksi bisa tembus ke harga tinggi. Saat harga sahamnya naik, mereka sengaja menjual saham sehingga investor pemulalah yang paling dirugikan. Mereka juga membuat grup-grup WhatsApp yang gratis dan berbayar.

Tentu informasi yang diberikan kepada anggota grup berbayar jauh lebih jujur dan menguntungkan daripada grup yang gratis. Sekarang ini influencer pasar modal bisa siapa saja dan sosoknya tidak anonim lagi. ”Artis, ustad, dan anak pejabat bisa jadi influencer dadakan. Tapi kan, pertanggungjawabannya bagaimana? Nah, ini yang selalu kami tekankan kepada investor pemula,” papar Arya.

Pria 23 tahun itu selalu berpesan kepada anggota komunitas agar tidak langsung borong saham dengan harapan untung besar setiap mendapatkan rekomendasi saham. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Pertama, perhatikan profil risiko diri sendiri sebagai investor. Berinvestasi untuk tujuan jangka pendek atau panjang. Kedua, perhatikan siapa yang memberikan rekomendasi saham, analis pasar modal yang memang sudah tersertifikasi atau mereka yang tidak punya background di bidang tersebut.

Ketiga, baca berita terkait dengan kondisi perusahaan yang dituju. Keempat, perhatikan laporan keuangan perusahaan. Kelima, lakukan analisis teknikal jika memang berani mengambil risiko yang lebih tinggi. Analisis teknikal ini perlu dipelajari lebih lanjut jika investor ingin menjadi investor jangka pendek (trader). ”Analisis fundamental seperti baca berita atau laporan keuangan itu penting. Analisis teknikal juga penting kalau mau trading harian,” tuturnya.

Dari ribuan orang yang pernah bergabung dengan ISP Surabaya, karakter anggotanya bermacam-macam. Ada yang fundamentalis, ada yang teknikalis. ”Yang penting, kita harus aktif menganalisis. Jangan sekadar mengandalkan informasi dari influencer. Jangan juga main saham pakai duit utang dari pinjaman online, misalnya. Itu yang selalu kami ingatkan ke teman-teman investor pemula,” tegas Arya yang dulu belajar tentang investasi dari orang tuanya.

Dulu, sebelum pandemi, ISP Surabaya sering mengadakan kopi darat bersama para anggotanya. Mereka menghadirkan narasumber analis saham dari sekuritas, pejabat Bursa Efek Indonesia (BEI), dan anggota ISP yang sudah ”naik kelas” dari investor saham menjadi trader saham. Investor saham biasanya masuk ke pasar modal untuk tujuan investasi jangka panjang. Misalnya, lima tahun. Sementara itu, trader lebih bertujuan jangka pendek. Kebanyakan melakukan transaksi saham secara harian.

Selama pandemi, aktivitas kopi darat itu berhenti total. Diganti dengan edukasi-edukasi secara online. Sesuai dengan namanya, peserta diskusi online ini adalah para investor pemula. Pada Januari lalu, ISP Surabaya juga sempat terlibat dalam sekolah pasar modal (SPM) online yang diadakan BEI. Di sekolah singkat yang mengajarkan serba-serbi pasar modal tersebut, ISP Surabaya berbagi informasi dengan para peserta. ”Rata-rata, mereka menanyakan hal-hal mendasar tentang saham. Ya, kami sih senang saja bisa sharing pengalaman dan pengetahuan bareng peserta SPM,” kata Arya.

Saking cintanya pada dunia saham, Arya kini lebih memilih untuk menjadi full-time trader. Dia baru saja mengundurkan diri (resign) dari pekerjaannya di sebuah perusahaan swasta di Surabaya setelah bekerja selama 1,5 tahun.

Sarjana Ilmu Politik Universitas Airlangga itu mengungkapkan, pendapatannya dari hasil trading saham jauh lebih banyak ketimbang gajinya sebagai karyawan. ”Dengan menjadi full-time trader, waktu saya bersama orang tua di rumah lebih banyak, lebih santai, dan bisa menikmati hidup. Hehe,” ungkapnya yang belajar seluk-beluk investasi sejak duduk di bangku SMA tersebut.

Harapan yang sama dipanjatkan Muhammad Khafidun Alim Muslim. Mahasiswa Teknik Informatika Universitas Negeri Surabaya (Unesa) itu juga ingin mencapai kemerdekaan finansial. Dia ingin memiliki masa tua yang aman, tidak terlilit utang, dan cukup secara keuangan. Khafid belajar investasi saham sejak akhir 2019. Sejak pertengahan 2020, dia mencoba belajar menjadi seorang trader.

Transaksi saham dilakoninya dengan lebih aktif. Hasilnya, Khafid kini bisa mempunyai uang jajan lebih. Dia bahkan bisa membantu keuangan orang tuanya yang memiliki toko peracangan di rumah. Untung besar pasti pernah, apalagi rugi. Namun, bagi Khafid, di situlah letak seni bermain saham.

Yang penting adalah dia harus bisa menata kondisi psikologisnya saat berencana menjual atau membeli saham. ”Jangan mudah terpengaruh fear (ketakutan) yang disebar di grup-grup Telegram, nanti jadi panic selling. Atau juga jangan terpancing influencer pompom, nanti malah rugi karena panic buying,” tutur Khafid yang kini sedang menyelesaikan skripsinya.

JP

LEAVE A REPLY