Pengelola Cegah Monyet Ganggu Wisatawan

0
299

GUNUNG KIDUL Nawacita — Pengelola Gunung Api Purba Nglanggeran, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, berupaya terus mencegah kawanan monyet ekor panjang masuk ke kawasan pemukiman dan menyerang wisatawan.

Pengelola Gunung Api Purba Nglanggeran, Sudadi mengatakan serbuan monyet ekor panjang itu sudah lama dialami, yakni kurang lebih sudah lima tahun di mana serangan monyet ekor panjang itu berlangsung setiap musim kemarau.

“Untuk tahun ini baru sekitar tiga bulan terakhir mereka menyerbu pemukiman warga. Terkadang mengganggu wisatawan yang berkunjung ke Gunung Api Purba Nglanggeran,” kata Sudadi di Gunung Kidul, Jumat (26/7).

Baca Juga : Destinasi Wisata dan Kuliner Dengan Konsep Kamp Militer

Ia mengatakan pengelola sudah menanam ratusan pohon buah untuk mencegah monyet turun gunung tetapi karena populasinya cukup banyak hal itu belum banyak membantu. Jenis tanaman buah yang ditanam tidak mengenal musim seperti talok (kersen).

Pengelola juga menanam pohon duwet dan jambu, tetapi dua pohon tersebut berbuah musiman.

“Saat seperti ini, kawanan monyet memakan buah beringin dan kayu akasia mungkin karena mereka sudah sangat lapar,” katanya.

Baca Juga : Destinasi Wisata di Bukittinggi Untuk Liburan keluarga

Meski serangan monyet ekor panjang sampai masuk ke permukiman, kata dia, persoalan serangan monyet tersebut tidak mempengaruhi kunjungan wisatawan ke Gunung api Purba Ngelanggeran. Hingga saat ini belum ada laporan wisatawan yang mengalami serangan ratusan ekor monyet.

“Hanya saja, pengunjung biasanya yang mengganggu kawanan monyet. Wisatawan sering menggoda monyet yang sedang makan, sehingga monyet-monyet itu marah,” kata Sudadi.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunung Kidul Bambang Wisnu Broto mengatakan sejak beberapa tahun lalu saat masih ada Dinas Kehutanan yang saat ini kewenangannya sudah ditarik ke provinsi, ia sudah menanam berbagai buah di atas Gunung Api Purba Nglanggeran. Namun diduga karena populasi monyet ekor panjang tidak terkendali, makanan semakin berkurang.

“Mungkin populasi tidak terkendali, dan habitatnya terganggu mereka mulai masuk ke pemukiman,” katanya.

rp

LEAVE A REPLY