Tekan Plagiat, Unisba Gelar SPeSIA untuk 887 Karya Ilmiiah

0
711
Univeritas Islam Bandung (Unisba)
Univeritas Islam Bandung (Unisba)

BANDUNG Nawacita  — Univeritas Islam Bandung (Unisba) terus berupaya untuk mencegah praktik plagiarisme artikel ilmiah penelitian karya mahasiswanya. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan menggelar kegiatan publikasi dalam Seminar Penelitian Sivitas Akademika Mahasiswa (SPeSIA) 2019.

Menurut Rektor Unisba Prof Edi Setiadi, tahun ini SPeSIA diikuti sebanyak 887 penelitian mahasiswa dari berbagai program studi sarjana yang  berasal dari sepuluh fakultas S1 Unisba. Di antaranya, Hukum Keluarga Islam, Komunikasi Penyiaran Islam, Matematika, Jurnalistik, Statistika, Farmasi, Teknik Perencanaan Kewilayahan dan Kota, Psikologi, Ilmu Hukum, Manajemen, Pendidikan Kedokteran, dan lainnya.

“Program ini sebenarnya sudah dimulai sejak 2014. Bedanya, sekarang mahasiswa yang akan mengikuti wisuda, wajib untuk membuat dan mempresentasikan makalah ilmiah di acara SPeSIA-Unisba. Kalau dulu nggak,” ujar Edi kepada wartawan saat ditemui disela kegiatan di Aula Unisba, Kamis (31/1).

Selain itu, melalui kegiatan ini, pihaknya terus berupaya untuk mendorong seluruh sivitas akademika, khususnya para mahasiswa. Agar mampu, menghasilkan inovasi atau penemuan baru dari setiap penelitian yang telah di lakukannya. Khususnya yang berkaitan dengan tantangan di era revolusi industri 4.0 bahkan 5.0, sesuai dengan program studi yang digelutinya selama ini.

Apalagi, menurut Edi, saat ini, untuk dapat mendirikan sebuah prodi atau fakultas baru, perguruan tinggi di hadapkan pada regulasi pemerintah yang cukup berat. Sehingga, dibutuhkan inovasi baru baik dalam hal pengajaran maupun penelitian.

“Kegiatan hasilnya sudah dipublikasikan secara online dalam prosiding. Semua karya ilmiah ini sudah diuji tingkat plagiarismenya melalui software bernama Turnitin,” katanya.

Selama ini, Unisba pun belum mendapatkan komplain dari pihak manapun. “Artinya, para mahasiswa kita ini betul-betul melakukan orisinilitas penelitian, yang sesuai dengan kaidah penelitian,” katanya.

Edi berharap, hasil penelitian ini dapat bermanfaatan bagi peningkatan kualitas mahasiswa. Bahkan, lebih jauh dapat diterapkan di masyarakat. Salah satunya melalui program krativitas mahasiswa.

Saat ditanya tentang sanksi yang diberikan kepada karya ilmiah mahasiswa bila terbukti melakukan plagiarsme, Edi mengatakan, selain diminta mengulang penelitian baru, atau bahkan pembatalan hasil sidang kelulusannya. Karena, hal tersebut dikategorikan sebagai salah satu kejahatan akademik.

Edi menjelaskan, kegiatan ini sebagai tindak lanjut dari surat edaran Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti) Nomor 2050/E/T/2011 tentang kebijakan unggah karya ilmiah dan jurnal perguruan tinggi, dan Nomor 152/E/T/2012 tentang publikasi karya ilmiah.  Serta, Permendiknas Nomor 17 Tahun 2010 tentang pencegahan dan penanggulanagan plagiat di perguruan tinggi, dan Nomor 22 Tahun 2011 tentang terbitan berkala ilmiah.

rp

LEAVE A REPLY