Dari SMK NU Ma’arif Kudus, Welder Berkelas Dunia itu Lahir

0
754

KUDUS Nawacita – Hari masih agak pagi dan cuaca di Kabupaten Kudus, Selasa (22/1) terasa lebih dingin dari biasanya. Namun di tengah cuaca yang tak menentu masa penghujan ini, Khoirul Anam, seolah tak sedikitpun terpengaruh. Remaja 18 tahun ini justru asyik tengah memotong-motong besi maupun baja. Bersama Muhammad Alif, temannya, dia tampak bersemangat dan bahu membahu memastikan pekerjaannya benar-benar sempurna.

Anam dan Alif memang tengah bersuka cita. Baru-baru ini, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) NU Ma’arif Kudus, Jawa Tengah, tempat dia menimba ilmu selama ini, mendapatkan bantuan pembangunan gedung dan seperangkat mesin las berteknologi sangat modern.

“Dengan mesin yang serba komputer ini, pemotongan dan pengelasan menjadi mudah dan presisi. Kita tinggal pantau di monitor saja,” ujar Anam.

Mesin dan gedung pengelasan (welding shop) bantuan Djarum Foundation dan Sumitomo Mitsui Banking Corporation (SMBC) ini memang istimewa. Teknologi teknik pengelasan pipa hingga 6G menjadikan alat praktik di SMK NU Ma’arif ini yang tercanggih. Bahkan di Indonesia, sekolah di bawah naungan Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama (NU) yang berlokasi di Prambatan Lor, Kudus ini adalah yang pertama kali memiliki fasilitas 6G. Umumnya, tempat praktik jurusan pengelasan SMK hanya memiliki teknik pengelasan dengan kemampuan 3G.

Dengan teknologi 6G ini memungkinkan siswa bisa belajar mengelas dari berbagi sisi sekaligus. Di dunia industri, kebutuhan pekerja terampil pada bidang ini sangat besar. Demikian juga di Indonesia yang kini tengah menggenjot sejumlah megaproyek infrastruktur seperti jalan tol, tol laut, bandara, dan pelabuhan.

Selain sekitar 90 siswa jurusan teknik pengelasan, perasaan penuh bangga juga diungkapkan Ahmad Fauzi, guru pembimbing yang sekaligus kepala welding shop SMK NU Ma’arif Kudus. Impian Fauzi dan beberapa guru pembimbing lainnya untuk memiliki welding shop berstandar internasional akhirnya terwujud.

Yang lebih membanggakan, tak hanya belajar dengan peralatan canggih, para siswa SMK NU Ma’arif nantinya juga akan mendapatkan sertifikat sebagai ahli pengelasan (welder) bertaraf internasional. Sertifikat diberikan dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi Indonesia (BNSP) dan Nippon Kaiji Kyokai (Class NK) Jepang.

“Kalau kita beli sendiri alat-alat ini rasanya tak mungkin karena harganya mencapai sekitar Rp15 miliar,” ujar Fauzi yang mengaku telah mendapat pelatihan enam bulan sebelum menggunakan alat baru ini dari Kampuh Welding Indonesia, institusi pengelasan terbaik di Tanah Air.

Welding shop megah di sisi barat SMK NU yang diresmikan Bupati Kudus HM Tamzil, Selasa (22/1) siang di dalamnya terdapat 30 mesin las modern buatan OTC Daihen Jepang. Ada tiga jenis mesin, yakni shielded metal arc welding (SMAW), gas metal arc welding (GMAW) dan gas tungsten arc welding (GTAW). Dari dukungan tiga jenis ini, siswa SMK NU bisa belajar las lebih praktis dengan objek berbahan apa saja, baik alumunium, besi, baja dan sebagainya.

Di welding shop yang berdampingan dengan Automation Engineering Lab ini juga terdapat fasilitas pendukung seperti mesin bending, shearing, pemotong pelat baja CNC plasma cutting dan mesin pengelasan spot welding. “Kita sangat kekurangan welder bersertifikasi internasional. Dari 500.000 tenaga pengelasan di Indonesia, baru 10% yang memiliki sertifikat itu. Kita butuh tambahan sekitar 50.000 setidaknya yang bersertifikat dunia,” kata M Moenir, pimpinan Kampuh Welding Indonesia yang juga Country Representative Asia Welding Federation (AWF).

Program Director Bakti Pendidikan Djarum Foundation Primadi Serad bersyukur perjuangan membangun welding shop yang digagas sejak 2014 silam akhirnya terwujud. Dia mengaku harus beberapa kali bolak-balik ke Jepang guna melobi beberapa pihak termasuk dari SMBC agar mau menjalin kerja sama.

Dia yakin, berbekal sertifikat internasional para lulusan teknik pengelasan SMK NU Ma’arif kelak akan cepat terserap ke pasar kerja. Kendati bukan langkah ringan dan berbiaya besar, pihaknya berkomitmen akan terus berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk membantu peningkatan kualitas sekolah vokasi di Indonesia. “Sejak 2011, sudah ada 16 SMK di Kudus yang kita kembangkan. Total sudah ada 48.500 lulusan, antara lain dari jurusan animasi, maritim, fashion dan spa,” ujar Primadi.

sn

LEAVE A REPLY