Upaya PT Railink Urai Kemacetan Lewat Layanan KA Bandara

0
172
PT Railink melalui layanan Kereta Api (KA) Bandara
PT Railink melalui layanan Kereta Api (KA) Bandara

Jakarta,Nawacita – Jalanan Ibu Kota memang sudah dikenal dengan suasananya yang sibuk dan macet. Tentu persoalan kemacetan ini terus diupayakan solusinya, baik dari pemerintah maupun berbagai pihak yang ingin berkontribusi.

Salah satunya oleh PT Railink melalui layanan Kereta Api (KA) Bandara yang diyakini akan mengurai kemacetan, setidaknya untuk menuju wilayah Bandara Soekarno Hatta. KA Bandara Soekarno Hatta sendiri telah genap satu tahun beroperasi sejak 2 Januari 2018.

Kini adat 70 slot perjalanan kereta dari 82 slot yang tersedia. Apabila 1 rangkaian sarana KA Bandara SF6 yang ada berkapasitas 272 orang penumpang, maka total per hari mampu memuat 19.040 penumpang dari Bekasi-Jakarta-Bandara Soetta ataupun sebaliknya.

Namun dalam perjalanannya, tentu rintangan yang dialami salah satu moda transportasi berkelas ini masih mengalami beberapa kendala. Salah satunya adalah tingkat okupansi penggunanya yang terbilang masih rendah, yakni sekitar 26%.

Berdasarkan data dari PT Railink hingga November 2018, okupansi pengguna KA Bandara pada hari biasa mencapai 2.700 – 3.000 penumpang dan hari Jumat bisa mencapai 4.700-5.000 penumpang. Sementara pada weekend, yakni Sabtu dan Minggu sekitar 2.000 – 2.500 penumpang.

Oleh karenanya, upaya dalam mendorong masyarakat berpindah dari penggunaan kendaraan pribadi kepada transportasi berbasis rel menuju/dari Bandara Soetta masih tergolong rendah.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan KA Bandara sudah berlangsung dengan baik, meski okupansinya masih ada masalah. Menurutnya, hal ini terjadi karena adanya ketidakseimbangan percepatan infrastruktur bersama dengan sarana transportasinya.

“Bukan kesalahan dari PT Railink karena kecepatan yang tidak sesuai dengan rencana. Tapi sekarang ini kita berpikir bahwa kereta api makin digemari dan kita akan terus tingkatkan kapasitasnya,” ujar Budi dalam acara diskusi publik Review 1 Tahun Kereta Bandara di Hotel Sari Pacific, Jakarta, Rabu (9/1/2019).

Budi mengatakan pembenahan kawasan Stasiun Manggarai yang saat ini dilakukan akan dapat meningkatkan okupansi, terutama KA Bandara.

“Pasti, karena kan konsep Stasiun Manggarai memisahkan lintasan dalam kota dan luar kota. Nanti luar kota itu berhentinya di Manggarai sehingga tidak ada crossing. Kedua, ada double-double tracksehingga tidak ada lintasan. Selama ini kita terlambat karena ada crossing. Jadi kalau ada kereta luar kota terlambat, kereta dalam kota juga jadi terganggu atau sebaliknya,” ujarnya.

Budi juga mengungkapkan akan mempercepat proyek tersebut sehingga bisa terwujud pada 2020 mendatang. Dengan dibenahinya Stasiun Manggarai, bukan hanya KRL dan kereta luar kota yang mendapatkan dukungan khusus. Namun KA Bandara juga akan mendapatkan dukungan khusus, seperti diperluasnya slot perjalanan.

“Dan KA Bandara bisa langsung ke Bekasi dan Depok. Kalau seperti itu, walaupun harganya tetap Rp 75 ribu pasti akan laku. Kalau sekarang kan karena orang harus ke Stasiun Dukuh Atas, jadi mereka dobel moda,” ujarnya.

“KA Bandara ini akan membaik pada saat double-double track itu selesai. Nanti kita akan memberian slot untuk KA Bandara,” pungkasnya.

Sementara itu, Direktur Utama PT Railink Heru Kuswanto mengatakan memang kinerja KA Bandara dari sisi volume masih belum memuaskan. Namun dari sisi kinerja layanan, berdasarkan survei yang telah dilakukan sudah cukup baik.

“Cuma memang kenapa belum tinggi volumenya, ya itu masih menjadi tantangan bagi kami. Belum bisa dikatakan proyek ini gagal hanya melihat waktu dalam satu tahun,” katanya.

Heru pun menyadari bahwa selama setahun ini KA Bandara memang belum sempurna. Ini dikarenakan beberapa faktor pendukung lainnya, seperti infrastruktur yang memang belum selesai.

“Contohnya Stasiun Manggarai yang nantinya juga akan terintegrasi dengan KA lain, terutama KRL, karena Manggarai punya 2 lantai, jadi nanti akan sangat bagus,” jelasnya.

“Seperti pengembangan Stasiun Manggarai dan juga di Bandara Soetta sendiri. Seperti yang dikatakan GM PT Angkasa Pura bahwa April nanti sudah ada perbaikan, yang sebelumnya waktu tunggu 13 menit akan lebih cepat menjadi 6 menit. Ini sangat memengaruhi karena untuk akses ke Terminal Bandara sendiri kan dari stasiun harus pakai Sky Train lagi,” jelasnya.

Selain itu, lanjut Heru, dari internal PT Railink pun akan terus menggali layanan-layanan baru. Misalnya dengan menambah titik-titik layanan stasiun KA Bandara agar semakin memperluas operasionalnya.

“Tadi seperti arahan Pak Menteri yang memberi kesempatan untuk menambah layanan ke Bekasi dan Depok. Agar penumpang tidak turun-turun, jadi dari Depok langsung ke Bandara. Sekali lagi, memang itu terkendala dari infrastruktur karena saat ini kita berbagi rel KA Bandara dengan KRL dan KA jarak jauh,” ujarnya.

“Setelah nanti double-double track selesai kan dipakai untuk KA jarak jauh. Sehingga rel yang ada saat ini dipakai untuk KRL dan KA Bandara. Artinya, peluang untuk menambah perjalanan itu semakin banyak tanpa mengganggu jalur KRL tentunya,” tambahnya.

Dengan demikian, Heru berharap akan memperoleh load factor 60% dari kapasitas kereta. Bahkan ia pun yakin di akhir 2019 ini akan mengalami peningkatan, meski tidak sampai 60% okupansinya.

dtk

LEAVE A REPLY