Sepanjang 2018 Terjadi 633 Kali Gempa Bumi di Jawa Timur

0
246
Ilustrasi.
Ilustrasi.

Malang,Nawacita – Stasiun Geofisika Karangkates, Kabupaten Malang mencatat ada sebanyak 633 gempa bumi sepanjang 2018 di Jatim. Aktivitas gempa bumi ini lebih tinggi dibandingkan tahun 2017 lalu. Jumlah gempa bumi yang tercatat di BMKG Karangkates pada tahun 2017 sebanyak 557 gempa bumi.

“Goncangan gempa bumi yang terekam peralatan Seismograp di Stasiun Geofisika Karangkates sebanyak 633 kali sepanjang 2018. Sementara gempa bumi yang terdampak langsung oleh masyarakat Jawa Timur sebanyak 13 kali di Jawa Timur,” terang Kepala Stasiun Geofisika BMKG Karangkates Malang, Musripan melalui rilis yang dikirim kepada detikcom, Rabu (2/1/2019).

Musripan mengatakan aktivitas getaran gempa bumi yang terekam Seismograf Stasiun Geofisika Karangkates di 2018 lebih tinggi dibandingkan tahun 2017 yang hanya sebanyak 557 kali gempa bumi.

“Dan gempa yang dapat dirasakan atau berdampak di masyarakat Jatim tahun 2017 lebih tinggi yaitu sebanyak 15 kali,” kata Musripan.

Ditambahkan Musripan, sepanjang tahun 2018, gempa terbanyak terjadi pada bulan Juli yakni 110 gempa. Sedangkan pada Januari 23 kali gempa, Februari 43 kali, Maret 20 kali, April 51 kali, Mei 56 kali, Juni 48 kali, Juli 110 kali, Agustus 40 kali, September 33 kali, Oktober 70 kali, November 60 kali, dan Desember 79 kali.

“Sedikitnya 13 kali gempa bumi yang dirasakan oleh masyarakat. Gempa terbesar di Jawa Timur adalah gempa di timur laut di Situbondo sebesar 6.3 SR,” beber Musripan.

“Ditinjau dari kedalaman atau hiposenternya rata-rata gempa bumi dangkal akibat aktivitas pergerakan lempeng tektonik di zona subduksi,” sambung Musripan.

Diterangkan Musripan, dalam hal ini lempeng tektonik Indo Australia yang menyusup ke bawah lempeng tektonik Eurasia mengakibatkan adanya akumulasi energi pada batuan tersebut hingga pelepasan energi dan pelepasan energi ini yang menimbulkan bumi kita bergetar atau yang disebut gempa bumi.

Dampak akibat gempa bumi yang paling parah adalah gempa bumi tanggal 11 Oktober 2018, lokasi di laut pada jarak 55 km arah timur laut Kota Situbondo, dengan kekuatan 6.3 M. Intensitas gempa dirasakan III-IV MMI di Denpasar, III MMI di Karangkates, III MMI di Gianyar, III MMI di Lombok Barat, III MMI di Mataram, III MMI di Pandaan. Korban meninggal 3 orang warga Desa Prmabanan, Kec. Gayam Sumenep, beberapa rumah rusak berat di Sumenep dan Jember.

“Masyarakat yang sedang berlibur di pantai dan yang tinggal di pantai, diimbau harus selalu waspada dan harus bisa evakuasi mandiri serta tidak panik bilamana terjadi gempa kuat atau berkekuatan lebih dari 7 M, dan segera mininggalkan pantai ke tempat yang lebih aman atau tempat yang lebih tinggi, dikawatirkan akan terjadi tsunami,” ujar Musripan.

Kemudian masyarakat juga diimbau untuk tidak mudah percaya dengan adanya informasi atau isu gempa yang mengatakan akan terjadi gempa bumi di berbagai daerah di Jawa Timur.

Hingga kini gempa bumi tektonik belum bisa diprediksi dengan tepat, baik waktu, tanggal dan tahun serta kekuatannya. Sehingga BMKG akan mengeluarkan keterangan resmi terjadinya gempa bumi, setelah gempa bumi tersebut terjadi.

Informasi tentang terjadinya gempa bumi biasanya juga akan diteruskan BMKG kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat untuk ditindaklanjuti.

“Masyarakat sebaiknya meminta informasi kepada pihak-pihak yang bertanggung jawab dan tidak mempercayai kabar burung yang tidak jelas sumbernya itu,” tegas Musripan.

 

dtk

LEAVE A REPLY