Shari’a Ekonomic Festival ( ISEF) 2018 Resmi Di Buka

0
605

Surabaya,Nawacita.co – Bank Indonesia bekerjasama dengan komite Nasional Keuangan Syariah ( KNKS) menyelengarakan The 5th Indonesiah Shari’a Ekonomic Festival ( ISEF) 2018 yang berlangsung Selama 11 – 15 Desember 2018 di Grand City Convention and Exhibition Surabaya, selasa (11/12) malam

Event Tahunan ini yang di prakasai oleh Bank Indonesia untuk memperkuat dan memperkenalkan sistem ekonomi dan keuangan berbasis syariah di indonesia dengan 3 ( tiga ) Pilar utama diantaranya memperkuat sektor usaha syariah, penguatan Halal value chain, penilaian dan edukasi termasuk sosialisasi dan komunikasi. Ketiganya saling terintegrasi dan tidak bisa dipisahkan satu sama lain.

Ada empat untuk mengejar ketertingalan, pertama. pembentukan KNKS beranggotakan pemerintahan, OJK, LPS, dan pihak Pengiat ekonomi dan keuangan syariah Kedua.penyusunan strategi pengembangan ekonomi dan keuangan syariah yang difokuskan pada 3 pilar,
yaitu pemberdayaan ekonomi syariah, pendalaman pasar keuangan syariah, serta penguatan riset, edukasi ekonomi dan keuangan syariah

“Salah satu perwujudan komitmen kami adalah perhelatan event bertajuk syariah selama 4 (empat) kali dalam setahun dimana pada tahun ini, Festival Ekonomi Syariah (FESYAR) di Balikpapan berhasil menggalang business matching senilai total Rp 1,7 Triliun Rupiah, sementara pada hari pertama ISEF 2018 ini, business matching telah berhasil menggalang Rp 5,1 Triliun,” Ketiga, memperkuat sinergi antar lembaga untuk mengakselerasi ekonomi dan keuangan syariah. Ke empat, kampanye ekonomi dan keuangan syariah melalui kemandirian ekonomi pesantren sebagai basis arus ekonomi Indonesia. Memperhatikan pertumbuhan pembiayaan syariah yang cenderung mandeg setelah mencapai angka 5%,” terang Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo saat Memberi Sambutan di opening ISEF 2018

Lebih Lanjut, Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menyampaikan 3 (tiga) program pengembangan kemandirian ekonomi pesantren untuk mendukung pesantren sebagai basis arus ekonomi Indonesia. Pertama, pengembangan berbagai unit usaha berpotensi yang memanfaatkan kerjasama antar pesantren. Kedua, mendorong terjalinnya kerjasama bisnis antar pesantren melalui penyediaan virtual market produk usaha pesantren sekaligus business matching. Ketiga, pengembangan holding pesantren dan penyusunan standarisasi laporan keuangan untuk pesantren dengan nama SANTRI (Standar Akuntansi Pesantren Indonesia) yang dapat digunakan oleh setiap unit usaha pesantren.

Program kemandirian pesantren yang ditempuh didasari oleh kekuatan pesantren sebagai basis arus ekonomi Indonesia yaitu, SDM pesantren yang memiliki jumlah dan ikatan komunitas yang kuat sehingga memiliki potensi sebagai sumber permintaan dan produksi berbagai kegiatan ekonomi; daya juang pesantren yang tinggi berpotensi besar apabila dikombinasikan dengan kemampuan kewirausahaan, dan konsep pemberdayaan ekonomi pesantren sebagai bagian dari ibadah. Selain pengembangan kemandirian pesantren, dilaksanakan pula seminar

“Kontribusi Pembiayaan dan Pasar Keuangan Syariah pada Pembangunan Nasional” ISEF 2018 (11/12). Dukungan Bank Indonesia terhadap pembiayaan dan pasar keuangan syariah salah satunya dengan rencana peluncuran Sukuk Bank Indonesia. “Instrumen ini bertujuan untuk menambah alternatif instrumen pasar uang syariah yang tradable dan dapat menjadi solusi jangka pendek kebutuhan likuiditas perbankan,” jelas Erwin Rijanto, Deputi Gubernur Bank Indonesia pada sambutan seminar tersebut.

Instrumen Sukuk tersebut akan melengkapi instrumen moneter syariah BI yang ada saat ini seperti Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS), Fasilitas Bank Indonesia Syariah (FASBIS), reverse repo syariah, dan repo SBSN.

Ditempat yang sama Menteri Perekonomian Republik Indonesia Darmin Nasution mengungkapkan bahwa constrain permasalahan bukan terletak pada pembiayaan syariah, namun justru pada perlambatan pertumbuhan sektor riil syariah, sehingga diperlukan strategi dan upaya untuk mendorong sektor riil, baik dari logistik maupun infrsatruktur yang memadai.

“Pengembangan ekonomi syariah dapat berkembang cepat, jika sektor riilnya berkembang baik. Kita tidak hanya perlu mendorong perbankan syariah, namun juga mendorong kegiatan berbasis syariah,” jelas Darmin.

Hal senada juga dikatakan oleh Gubernur Jawa Timur, Soekarwo “Ekonomi syariah di Jawa Timur mempunyai potensi yang cukup tinggi”. Hal ini ditandai dengan pertumbuhan kredit syariah di Jawa Timur yang mencapai 12,38% (year on year) dan lebih tinggi dibandingkan kredit konvensional yang hanya 10,9% (year on year). Pada perhelatan ISEF hari pertama tersebut, dilakukan pula high level discussion “Fastabiqul Khairat melalui Pesantren sebagai Salah Satu Rantai Nilai Halal.” Pungkasnya

LEAVE A REPLY