Indonesia Incar Pasar Non-Tradisional di Mesir

0
557
Menteri Perdagangan RI, Enggartiasto Lukita
Menteri Perdagangan RI, Enggartiasto Lukita

TANGERANG, Nawacita — Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan (Kemendag) mendorong volume ekspor ke pasar notradisional, termasuk Mesir. Perluasan ini diaplikasikan melalui penandatanganan enam nota kesepahaman (MoU) ekspor komoditas Indonesia ke Mesir dengan nilai perdagangan 67,5 juta dolar AS.

Dari total tersebut, 30 juta dolar AS di antaranya dibukukan untuk komoditas kopi. Sementara itu, 20 juta dolar AS untuk produk ban kendaraan oleh perusahaan lain. Sisanya, kontrak pembelian kelapa parut, rempah dan minyak esensial senilai 8 juta dolar AS dan produk etanol serta gliserin senilai 5 juta dolar AS.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menjelaskan, Indonesia memiliki hubungan dekat secara historis dengan Mesir. Hanya saja, nilai perdagangan kedua negara masih kecil, yakni di bawah 2 miliar dolar AS. “Mereka (Mesir) mengalami kendala untuk masuk custom karena nggak ada perjanjian,” tuturnya ketika ditemui di acara Trade Expo Indonesia di Tangerang, Kamis (25/10).

Enggar menilai, pasar Mesir memiliki potensi besar dengan 90 juta penduduknya. Tapi, lebih dari itu, Mesir dapat dimanfaatkan Indonesia sebagai hub untuk masuk ke pasar Afrika, Timur Tengah dan Eropa yang memiliki total 1,6 milyar penduduk. Ini seperti yang diingatkan Presiden Joko Widodo dalam sambutannya di pembukaan TEI 2018.

Banyak produk Indonesia yang bisa dikirim ke pasar Mesir. Selain produk makanan minuman seperti kopi, Enggar menyebutkan, ban kendaraan, palawija dan sawit serta produk turunannya cenderung digemari masyarakat setempat. “Masih banyak lagi produk yang bisa dikembangkan, terutama makanan dan minuman,” ujarnya.

Enggar berencana membuat perjanjian perdagangan dengan Mesir pada tahun depan. Pada awal tahun 2019, ia akan melakukan kunjungan dan mengusulkan membuat kemitraan melalui Preferential Trading Area (PTA). Konsep ini juga akan diberlakukan terhadap negara Tunisia, Mozambik dan Maroko.

Selain PTA, pemerintah Indonesia juga sudah mengajukan Free Trade Agreement (FTA) dan join trade commitment. Enggar menargetkan, tindak lanjutnya bisa dilaksanakan pada awal tahun depan juga. Apabila sudah sepakat melalui perjanjian-perjanjian tersebut, ia memprediksi, nilai perdagangan Indonesia-Mesir dapat meningkat hingga dua kali lipat pada 2020.

Sementara itu, Duta Besar Indonesia untuk Mesir Helmy Fauzy mengatakan, ekspor-impor Indonesia ke Mesir pada tahun lalu mencapai 1,5 miliar dolar AS. Indonesia mengalami surplus sekitar delapan persen dengan dominasi komoditas ekspor adalah palm oil dan turunannya, benang serta produk otomotif seperti ban.

Helmy mengakui, persoalan terbesar dalam hubungan perdagangan Indonesia dan Mesir adalah hambatan tarif dan nontarif. Khususnya untuk barang jadi seperti furniture yang pajaknya mencapai 60 persen dan ban 20 persen.

“Akibatnya, harga produk kita di Mesir menjadi lebih mahal dibandingkan negara lain yang punya kerja sama bebas dengan Mesir. Turki, misalnya,” tutur Helmy.

Helmy menyebutkan, kompetitor Indonesia di pasar Mesir adalah kopi Vietnam. Saat ini, kopi Indonesia sudah menguasai 60 persen. Tapi, ketersediaan produk harus tetap dijaga untuk memastikan keinginan masyarakat terus terpenuhi. Harga juga harus kompetitif dari Vietnam yang kini semakin bergerilya mengekspor komoditasnya.

Selain itu, produk alas kaki asal Vietnam dan Cina serta ban dari Korea, Thailand dan Turki juga disebut Helmy sebagai kompetitor Indonesia. Minyak kelapa sawit juga memiliki saingan ketika negara-negara Eropa ingin memasarkan minyak bunga matahari.

repblk

LEAVE A REPLY