Orasi Politik AHY dan Pertaruhan Putra Mahkota Demokrat

0
508

Jakarta, Nawacita — Agus Harimurti Yudhoyono hari ini kembali menggelar orasi politik. Untuk ketiga kali, putra sulung Presiden keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono mengambil panggung untuk mengutarakan pemikirannya tentang kebangsaan.

Pada 11 Maret lalu, AHY berorasi di Rapat Pimpinan Nasional Partai Demokrat di Sentul, Jabar. Sebelum berorasi, ia sempat sepanggung dengan sang ayah dan juga Presiden Joko Widodo.

Tak ada yang spesial dari orasi itu. AHY yang juga menjabat Ketua Komando Tugas Bersama (Kogasma) Demokrat berorasi selama 40 menit soal target kemenangan Demokrat di Pemilu 2019.

Tak lupa, ia juga menggoda petahana, Jokowi, dengan memujinya berkali-kali. AHY juga memuji kinerja SBY yang memimpin Indonesia selama dua periode.


Tiga bulan berselang, AHY kembali berorasi. Hubungan yang renggang dengan Jokowi sedikit banyak memengaruhi naskah politik berjudul ‘Dengarkan Suara Rakyat’ itu.

Mantan Calon Gubernur DKI tersebut mencibir kebijakan Jokowi yang berfokus pada pembangunan infrastruktur. Namun AHY bermain aman dengan memberi maklumat pernyataannya adalah otokritik, renungan bagi semua.

“Ketika pemerintah saat ini berhasil membangun ribuan kilometer jalan, ratusan jembatan, dan proyek infrastruktur lainnya, lantas, kita patut bertanya, ‘apa kabar, Revolusi Mental?’,” kata AHY di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Sabtu (9/6).

Manuver sang Putra Mahkota Demokrat tak berhenti di situ. Beberapa hari sebelum orasi ketiga, baliho-baliho raksasa terpancang di sudut-sudut Ibu Kota.

Dengan pakaian rapi, postur tegap, dan wajah serius, AHY tampil di muka publik dengan slogan ‘SIAP’ serta ‘Sekarang dan Masa Depan’.

Pengamat politik Habibie Center Bawono Kumoro menyoroti orasi politik sebagai panggung yang dipilih AHY. Bawono menilai pilihan ini cukup berisiko dalam perkembangan karier politik AHY.

Pasalnya orasi politik yang selama ini dilakukan AHY dianggap kurang menantang. Ia berorasi di depan orang-orang yang diundang, berbicara satu arah, dan narasi yang dilontarkan cenderung datar.

Bawono menganggap seharusnya AHY lebih berani bicara di forum dua arah seperti yang ia lakukan saat Debat Pilkada DKI 2017.

“Agar publik bisa menilai dia dengan lebih baik, tahu kapasitas dia menjawab masalah-masalah yang tidak terduga. Bukan AHY jadi pembicara utama yang satu arah, tapi forum yang interaktif dan dialogis,” ucap Bawono saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (2/8).

Bawono menilai akan sangat mubazir jika SBY dan Demokrat hanya memoles sang Putra Mahkota hanya dengan orasi politik semacam ini.

AHY terancam akan terjebak zona nyaman. Sehingga ia tidak akan mampu beradaptasi dengan situasi dinamis. Padahal untuk menjalankan roda pemerintahan ia harus bisa mengendalikan situasi yang dinamis.

“Orasi politik ini kan sifatnya political entertainment. Kalau terlalu banyak, AHY bukan bertransformasi dari prajurit berprestasi menjadi politisi berprestasi. Tapi hanya jadi selebritas politik saja,” tutur Bawono.

Dihubungi terpisah, CEO Alvara Research Center Hasanuddin Ali menilai orasi politik dan baliho-baliho AHY hanya sebagai arena latihan dan persiapan AHY di 2024. Sehingga AHY tak punya beban di 2019 jika tak terpilih sama sekali menjadi cawapres.

“Yang bisa mencerna pidato politik kan kalangan kelas menengah. Dan kalau kita lihat konten AHY selalu bahasanya agak tinggi dibanding misalnya Pak Jokowi yang santai,” kata Hasan kepada CNNIndonesia.com.

Lebih lanjut, Hasan menyatakan orasi politik AHY tak mampu memberi sumbangsih elektoral kepada Partai Demokrat.

Tak ada tren kenaikan elektabilitas Demokrat meski AHY tiga kali membuat panggung sendiri dengan berorasi politik.

Hasan menyebut beda halnya dengan kasus Muhaimin Iskandar dan PKB. Gerilya politik Cak Imin dengan berkeliling daerah dan membombardir dengan baliho Cak Imin Now sukses secara elektoral.

Pada survei yang dilakukan Alvara pada 17 Januari hingga 7 Februari 2018, PKB memiliki 4,2 persen elektabilitas. Sementara Partai Demokrat memiliki elektabilitas 4,9 persen.

Survei itu dilakukan terhadap 2.203 responden dengan metode survei multi-stage random sampling. Penelitian menggunakan margin of error 2 persen, pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Lalu pada survei Alvara 20 April-9 Mei 2018, elektabilitas PKB naik menjadi 4,4 persen. Adapun Demokrat turun menjadi 3,2 persen.

Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara tatap muka. Survei menggunakan teknik multi-stage random sampling dan ditanyakan kepada 1.202 responden di seluruh Indonesia. Margin of error mencapai 3,1 persen.

“Ada dua faktor, pertama masih ada ketergantungan dengan Pak SBY. Kedua publik belum melihat dan yakin terhadap sosok AHY. Bisa jadi karena faktor usia masih terlalu muda atau secara kompetensi dirasa belom siap,” lanjutnya.

Demokrat telah bersepakat mengusung Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto sebagai capres penantang Jokowi di Pilpres 2019. Penjajakan koalisi yang turut melibatkan PKS dan PAN hingga kini masih belum sampai pada kesepakatan menetapkan pendamping Prabowo. Partai koalisi Prabowo masih tarik-ulur mempertimbangkan nama Salim Segaf Aljufrie –juga AHY.

cnn

LEAVE A REPLY