Lima Perusahaan Bawang Bombai Mini Di-blacklist

0
519
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman

Nawacita – Kementerian Pertanian melakukan blacklist (memasukkan dalam daftar hitam) atas lima perusahaan yang diduga memasukkan bawang bombai tidak sesuai ketentuan. Adapun lima importir yang sudah diaudit Kementan yakni PT TAU, PT SMA, PT KAS, PT FMP, dan PT JS sehingga dikenakan sanksi blacklist dari Kementan.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan, selain lima perusahaan tersebut pihaknya masih mengawasi lima perusahaan lain yang juga diduga melakukan impor bawang bombay mini.

“Dengan berat hati kami mem-blacklist lima perusahaan karena ini menyusahkan petani kita juga memberatkan konsumen sehingga inflasi kemudian pada akhirnya terjadi kemiskinan,” ujar Menteri Amran di Jakarta, Jumat (22/6/2018).

Perlu diketahui, bawang bombai mini adalah bawang bombai berukuran diameter kurang dari lima centimeter. Sesuai dengan Kepmentan 105/2017 impor bawang bombai mini tersebut telah dilarang, karena secara morfologis bentuknya menyerupai bawang merah lokal sehingga berpotensi mengelabui konsumen dan merugikan petani lokal.

Dengan curang, perusahaan tersebut mengimpor bawang bombai mini kemudian dijual sebagai bawang merah dengan harga jauh lebih murah. Akibatnya harga bawang merah lokal anjlok drastis.

“Kami minta yang bersangkutan enggak boleh lagi berbisnis bawang merah bawang bombai, yang kedua termasuk membuat perusahaan baru kami tetap blacklist cara apapun kami tetap blakclist,” tegas Amran.

Pihaknya mensinyalir bawang bombai mini masuk melalui pintu pelabuhan Tanjung Perak dan Belawan. Modusnya dengan menyelipkan karung-karung berisi bombai mini di kontainer sisi dalam sehingga menyulitkan pemeriksaan petugas.

Kementerian Pertanian telah melakukan koordinasi intensif dengan Satgas Pangan dan instansi berwenang lainnya untuk mengusut tuntas kasus ini termasuk terhadap lembaga pengawas dan sertifikasi yang terlibat.

“Sanksi lanjutan bagi importir yang melanggar karakteristik komoditas sesuai Permendag 16/2018 dan Permentan 38/2017,” imbuh dia.

Sejak tahun 2016, Kementerian Pertanian tidak lagi mengeluarkan Rekomendasi impor Produk Hortikultura (RlPH) bawang merah (shallot). Sebab, produksi di dalam negeri per tahun mencapai lebih dari 1,45 juta ton, sementara kebutuhan konsumsi berkisar 1,2 juta ton, sehingga terjadi surplus.

Bahkan, Indonesia 2017 telah mampu mengekspor lebih dari 7.750 ton ke berbagai negara seperti Thailand, Vietnam, Filipina, Singapura, Timor Leste dan Taiwan. Tahun ini ditargetkan ekspor meningkat lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya mengingat panen bawang merah melimpah.

Amran pun mengimbau kepada para pedagang agar tidak ikut memperjual-belikan bawang bombai mini. Sementara konsumen juga diminta agar lebih teliti membeli bawang merah jangan terkecoh dengan iming-iming harga murah.

“Jika menemukan bawang bombai merah berukuran kecil, segera laporkan kepada Satgas Pangan atau instansi berwajib untuk ditindaklanjuti,” pungkasnya.

oke

 

LEAVE A REPLY