7 Fakta yang Patut Diketahui Seputar Malaria

0
260
Ilustrasi.
Ilustrasi.

Jakarta, Nawacita — Memeringati Hari Malaria Sedunia pada hari ini, Rabu (25/4), Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengajak publik untuk semakin peduli dan mau bersiap menghadapi malaria. Pasalnya menilik data pada 2017 ada peningkatan jumlah kasus pada 2016 dibanding 2015.

Melakukan berbagai upaya pencegahan dinilai patut dilakukan agar menekan angka penderita malaria. Selain itu, pemahaman akan penyakit satu ini, dari mulai gejala dan penyebabnya juga mesti diketahui.

Sebelum bergerak dan bersiap hadapi malaria, ada baiknya melihat enam fakta terkait penyakit satu ini:

1. Lima jenis plasmodium penyebab malaria

Selama ini malaria hanya dianggap sebagai penyakit yang muncul akibat gigitan nyamuk Anopheles. Padahal plasmodium yang patut disalahkan dan nyamuk hanyalah perantara. Ada lima jenis plasmodium yang menyebabkan malaria yakni, plasmodium vivax, plasmodium falciparum, plasmodium ovale, plasmodium malariae, dan plasmodium knowlesi.

Dari laporan tahunan WHO terkait malaria, hampir 50 persen kasus malaria di Indonesia disebabkan oleh plasmodium vivax. Plasmodium ini berdiam di organ hati dengan masa inkubasi 12-18 hari.

2. Nigeria, negara dengan kematian akibat malaria tertinggi

Melihat laporan tahunan WHO, selama lima tahun terakhir kematian akibat malaria paling banyak terjadi di wilayah Afrika. Pada 2016, total kematian akibat malaria secara global sebanyak 445 ribu dengan 407 ribu berada di Afrika. Secara global, Nigeria menjadi negara yang paling banyak menyumbang kematian akibat malaria yakni sebanyak 24 persen, disusul Republik Demokratik Kongo (20 persen) dan Burkina Faso (11 persen).

3. Indonesia timur masih berstatus endemis tinggi

Di Indonesia, sebanyak 266 kabupaten/kota (52 persen) dari 514 kabupaten/kota dinyatakan bebas malaria. Sedangkan sebanyak 172 kabupaten/kota (33 persen) berstatus endemis rendah, 37 kabupaten/kota (7 persen) endemis menengah dan 39 kabupaten/kota (8 persen) endemis tinggi. Wilayah yang berstatus endemis tinggi berada di Papua, Papua Barat dan Nusa Tenggara Timur.

4. Pekan kelambu massal

WHO menyebut penggunaan kelambu dapat mengurangi gigitan nyamuk. Kelambu mampu melindungi mereka yang rentan terkena gigitan yakni ibu hamil dan anak-anak. Kelambu efektif digunakan selama 2-3 tahun tergantung jenisnya.

Mengutip dari rilis resmi Kementerian Kesehatan RI, Indonesia mencanangkan pekan kelambu massal. Sejak 2004, kemeterian telah mendistribusikan kelambu ke berbagai porvinsi. Pada 2017, sebanyak 3 juta lebih kelambu dibagikan ke 20 provinsi di Indonesia.

5. Ibu hamil rentan terkena malaria

Dalam kasus malaria, ibu hamil berisiko tinggi mengalami komplikasi akibat malaria. Malaria dapat jadi pemicu aborsi spontan, kelahiran prematur, keguguran dan anemia. WHO menyarankan agar tempat-tempat dengan status endemis tinggi atau rentan malaria mendapat pemeriksaan intensif plus jadwal kunjungan setelah tri-mester pertama.

6. Malaria = kerugian ekonomi

Malaria tak hanya penyakit yang menggerogoti tubuh, ia juga ‘memakan’ biaya besar. Malaria membuat keluarga dan komunitas berada dalam lingkaran kemsikinan, semakin membuat orang termarjinalkan apalagi bagi mereka yang sulit mengakses fasilitas kesehatan.

7. Sereh buat cegah malaria

Selain menggunakan kelambu atau losion pelindung kulit, seseorang bisa juga menggunakan tanaman sereh yang dianggap ampuh mengusir nyamuk, termasuk Anopheles penyebab malaria. Caranya, bisa ditanam di sekeliling rumah, ditempatkan di atas meja atau di sudut rumah lainnya.

cnn

LEAVE A REPLY