Masih Bertahan Sebagai Ketua MK, Pengamat: Arief Tak Sadar Diri

0
443
Ketua MK Arief Hidayat

JAKARTA, NAWACITA.CO-Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Arief Hidayat tengah menjadi soroton publik. Sebab, saat ini dia terus mendapat laporan dari lapisan masyarakat untuk mundur dari jabatannya lantaran telah mendapat sanksi etik sebanyak dua kali.

Pengamat hukum dari Universitas Trisakti, Abdul Fikchar Hadjar menyatakan, saat ini Arief belum sadar meskipun banyak dorongan dari masyarakat untuk melepaskan jabatannya sebagau Ketua dan Hakim MK.

“Seharusnya dengan kesadaran diri dapat mundur,” kata Fikchar saat dihubungi JawaPos.com, Jumat (2/3).

Setidaknya, selama Arief Hidayat menjabat sebagai Ketua MK sudah dua terbukti melanggar kode etik. Pada 2016, Arief Hidayat pernah mendapatkan sanksi etik berupa teguran lisan dari Dewan Etik MK.

Pemberian sanksi dilakukan lantaran Arief dianggap melanggar etika dengan membuat surat titipan atau katebelece kepada Jaksa Agung Muda Pengawasan Widyo Pramono untuk ‘membina’ seorang kerabatnya.

Dalam katebelece yang dibuat Arief itu terdapat pesan kepada Widyo Pramono agar bisa menempatkan salah seorang kerabatnya dengan bunyi pesan, ‘Mohon titip dan dibina, dijadikan anak Bapak’.

Kerabat Arief yang ‘dititipkan’ itu, saat ini bertugas di Kejaksaan Negeri Trenggalek, Jawa Timur, dengan pangkat Jaksa Pratama/Penata Muda IIIC.

Untuk kali kedua, Dewan Etik MK menyatakan Arief terbukti melakukan pelanggaran ringan.

Arief dilaporkan telah melakukan pelanggaran kode etik sebelum proses uji kelayakan dan kepatutan terkait pencalonannya kembali sebagai hakim konstitusi di DPR, Rabu (6/12).

Atas putusan tersebut, Dewan Etik MK menjatuhkan sanksi berupa teguran lisan kepada Arief.

Dalam pemeriksaan oleh Dewan Etik, Arief terbukti melanggar kode etik karena bertemu dengan sejumlah pimpinan Komisi III DPR di Hotel Ayana Midplaza, Jakarta.

Oleh karena itu, Fikchar berpendapat jika Arief tetap bertahan maka akan memengaruhi putusan konstitusi.

“Karena kerjanya ke depan tidak akan efektif, sanksi etik terus berjalan,” pungkas Fikchar.

JAWA POS

LEAVE A REPLY