Mensos : Membangun Asmat Dengan Potensi Dan Sumber Daya Lokal

0
391

Nawacita.co – , 22 Februari 2018 – Pemerintah terus berupaya untuk mempercepat pembangunan di Kabupaten Asmat, hal ini sesuai dengan Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2017 tentang Percepatan Pembangunan Kesejahteraan Di Provinsi Papua dan Papua Barat.

“Sebagai implementasi Inpres tersebut, Kemensos melakukan pendekatan pembangunan kesejahteraan sosial di Kabupaten Asmat dengan memanfaatkan sumberdaya dan kearifan lokal” ujar Menteri Sosial Idrus Marham pada kunjungan kerja di Kabupaten Asmat (22/2).

Kunjungan kerja yang dipimpin oleh Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani tersebut di hadiri pula Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek Menteri Pendidikan dan Kabudayaan Muhadjir Efendi, dan Kepala Staf Kepresidenan Muldoko.

Secara faktual, realitas sosial kehidupan masyarakat Papua secara umum dalam kondisi terisolasi, sehingga berimplikasi terhadap seluruh sistem kehidupan orang Papua.

Dalam kerangka itu, lanjut Idrus, maka kebijakan Presiden Jokowi dalam percepatan pembangunan infrastruktur Trans Papua memiliki dampak yang signifikan bagi masyarakat Papua, tidak saja untuk mengatasi keterisolasian, tetapi juga akan menggerakkan dan mempercepat pembangunan ekonomi, termasuk stabilitas dan harmonisasi harga dibandingkan dengan daerah-daerah lain, sehingga meningkatkan kemandirian dan kesejahteraan masyarakat Papua.

Setelah status Tanggap Darurat Kejadian Luar Biasa Campak dan Gizi Buruk dicabut oleh Bupati Asmat, diperlukan langkah lebih lanjut secara terpadu menyeluruh dan berkesinambungan.

Hal itu diperlukan terutama dalam rangka pemulihan, perawatan dan pengembangan kehidupan berkelanjutan melalui pemberdayaan masyarakat Asmat secara partisipatif agar tumbuh kemandirian dalam jangka panjang.

Kementerian Sosial meluncurkan beberapa program dengan melibatkan partisipasi dari masyarakat setempat. “Ada Program Keluarga Harapan (PKH), pembentukan Taruna Siaga Bencana (Tagana), pembentukan Kampung Siaga Bencana (KSB), program Kearifan Lokal (Riflok) dan Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil (KAT),” lanjut Idrus.

Untuk PKH, Kemensos telah merekrut secara offline sebanyak 46 pendamping dan 2 operator, sehingga pendamping yang ada saat ini sebanyak 50 orang dan 3 operator. Mereka sudah diberikan bimbingan teknis singkat terkait pengetahuan umum tentang PKH, tata cara validasi data dan pengisian formulir validasi.

Mereka (red-pendamping) bersama tim dari pusat sudah melaksanakan validasi data pada 19 kampung di 19 Distrik, hasil validasi 2.755 KPM sedang dalam proses input data ke dalam Sistem Informasi Managemen PKH yang selanjutnya akan dibukakan rekening oleh bank penyalur BRI yang sudah tersedia di Agats.

Sebagai bentuk penyiapan masyarakat yang terlatih, lanjut Idrus, sebanyak 30 orang pemuda dari Distrik Agats sudah direkrut menjadi anggota Tagana dan dilatih dengan berbagai ilmu dasar penanggulangan bencana seperti manajemen pengungsi, dapur umum, logistik dan dukungan psikososial. Sejak mengikuti latihan, para relawan tersebut sudah terlibat mendistribusikan bantuan logistik ke seluruh Distrik yang terkena KLB campak dan gizi buruk.

Kegiatan pelatihan Tagana Muda ini merupakan perwujudan penyiapan personil penanggulangan bencana yang berasal dari masyarakat sebagai bentuk peningkatan partisipasi masyarakat dalam penanggulangan bencana.

Selain itu juga telah dibentuk Kampung Siaga Bencana (KSB), masyarakat dikelompokkan dalam satu wadah kepengurusan dan diharapkan mampu melestarikan nilai kearifan lokal dalam penyusunan perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian untuk memgurangi ancaman dan dampak resiko bencana.

Penguatan Kearifan Lokal diberikan kepada dua kelompok dengan tujuan dapat menciptakan harmonisasi sosial di masyarakat, “Diharapkan terjadi penguatan pranata adat di masyarakat, dalam bentuk kesenian lokal, tata adat lokal,” harap Idrus.

Dengan Kearifan Lokal, dapat tercipta keberfungsian kearifan lokal yang dimiliki masyarakat dalam menjaga kerukunan antar warganya sehingga permasalahan atau perbedaan yang ada, tidak menjadi ancaman yang kemudian menjadi konflik sosial.

Sejak tahun 1985, Program KAT sudah diluncurkan di Agats yang saat ini menjadi Ibukota Kabupaten Asmat. “Tahun ini, sebanyak 37 kk di Kampung Soray Distrik Suatar Kabupaten Asmat akan mendapatkan bantuan pemukiman sosial, jaminan hidup, bantuan bibit, peralatan kerja dan perlengkapan rumah tangga,” tambah Mensos.

Selain itu juga akan diberikan jaminan hidup tahun kedua kepada 80 kk, sehingga total bantuan KAT secara keseluruhan sebesar 3,1 milyar

Selain itu juga akan diberikan jaminan hidup tahun kedua kepada 70 kk, mereka adalah warga binaan di kampung seramit Distrik Pantai Kasuari sebanyak 40 kk dan Kampung Auban Distrik Kolf Braza sebanyak 30 kk.

Sementara itu, Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Harry Hikmat menyampaikan bahwa tahun 2018 Kementerian Sosial mengucurkan bantuan sosial untuk Provinsi Papua sebesar 717,58 milyar.

Bansos tersebut terdiri dari Bansos PKH yang mencakup PKH Reguler sebanyak 60.193 keluarga, PKH Disabilitas sebanyak 954 jiwa dan PKH Lanjut Usia sebanyak 1.349 jiwa dengan nilai seluruhnya sebesar 124,90 milyar. Untuk Bansos Pangan Beras Sejahtera terdiri dari beras sejahtera sebanyak 448.931 keluarga dan Bantuan Pangan Non Tunai sebanyak 16.784 keluarga seluruhnya senilai 592,68 milyar.

Dari nilai bantuan tersebut, lanjut Harry, alokasi untuk Kabupaten Asmat sebesar 27,03 milyar. Bantuan itu terdiri dari bansos PKH senilai 6,68 milyar untuk PKH Reguler 3.322 keluarga, PKH Disabilitas 8 jiwa dan PKH Lansia 8 jiwa. Bantuan rastra untuk 13.046 keluarga senilai 17,22 milyar dan Bantuan Hibah Dalam Negeri sebanyak 100 keluarga senilai 33,25 juta.

Tim KSB di Asmat, lanjut Harry, melibatkan 60 orang dari enam kampung yaitu Kampung Ayam, Kampung Buetkoar, Kampung Wawcesaw, Kampung Bayiw Pinam, Kampung Cumnew dan Kampung Jewesdoar.

Salah satu penerima bantuan kearifan lokal adalah sanggar Demtok di Desa Er Distrik Sawa Erma Kabupaten Asmat. Sanggar Demtok menurut Harry adalah sanggar yang mewadahi para pengukir dan pemahat yang berdiri sejak tahun 2010.

Seperti diketahui bahwa asmat terkenal dengan seni pahat dan seni ukir, “dengan bantuan kearifan lokal ini diharapkan dapat memotivasi masyarakat untuk bangkit kembali mengembangkan karya seni pahat dan ukir sehingga dapat memperbaiki taraf hidup mereka,” harap Harry yang langsung mengunjungi lokasi Kerajinan Cindera Mata dan Anyaman Kampung Er Kecamatan Sawa Erma Kabupaten Asmat.

Humas Ditjen. Perlindungan dan Jaminan Sosial

LEAVE A REPLY