Berkembangnya Kain Tenun di Indonesia

0
1709
Kualitas tenun di Indonesia semakin bagus dan makin banyak dikenakan orang.
Kualitas tenun di Indonesia semakin bagus dan makin banyak dikenakan orang.

Jakarta, Nawacita — Sebagian orang mungkin bertanya-tanya soal perkembangan kain tenun di Indonesia. Bukan hal baru ketika tenun mulai diminati saat ini.

Bahkan, sudah cukup banyak desainer yang menggunakan kain tenun untuk karya-karya yang diciptakannya seperti pakaian, selendang dan aksesoris.

Mungkin, masyarakat tidak asing dengan kebijakan Satu Hari dengan Batik. Namun, pernahkah mendengar kebijakan pemerintah lokal untuk menggunakan tenun sehari dalam seminggu?

Director Asosiasi Pendamping Perempuan Usaha Kecil, Mia Ariyana, mengatakan kebijakan tersebut sudah dimiliki oleh bupati dan gubernur dari pemerintah lokal. Tujuannya, untuk melestarikan budaya lokal dan membantu meningkatkan perekonomian penenun yang mayoritas adalah perempuan.

Kebijakan tersebut biasa dilakukan Hari Kamis atau Jumat. Sejumlah daerah yang telah memberlakukannya seperti Lombok Tengah, Kabupaten Tanah Datar Sumatera Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi serta Klaten.

“Kami ingin mengangkat tenun seperti batik. Di daerah sudah ada kebijakan pemerintah setempat untuk menggunakan tenun satu hari dalam seminggu, makanya kami juga mulai membuat tenun itu dengan bahan yang enak digunakan sehari-hari tujuannya untuk mengangkat tenun seperti batik,” ujarnya kepada CNNIndonesia.com.

Kebijakan yang sudah berlaku sekitar tiga tahun itu, dikatakan Mia, dapat membantu masyarakat untuk mengenali lambang atau ciri khas dari daerahnya. Hal itu karena tenun memiliki ciri khas pada motif yang menjelaskan soal daerah masing-masing.

Sejauh ini, Mia menilai, kebijakan tersebut juga telah meningkatkan penghasilan penenun. Mereka juga menyadari soal pentingnya bahan dari kain tenun untuk digunakan dalam perkembangan fashion.

“Dulu kebanyakan orang malas menggunakan tenun karena tebal dan panas tetapi sekarang sudah berubah. Penenun sudah memahami soal penggunaan benang yang lebih bagus sehingga tidak membuat kain tenun begitu tebal dan penggunaan pewarna alami yang memanfaatkan tumbuh-tumbuhan,” tuturnya.

Kebijakan tersebut pun disambut baik oleh masyarakat. Mia mengatakan, karena perkembangan pembuatan kain tenun yang sudah modern, masyarakat tidak malas dan canggung lagi dalam menggunakannya.

Tidak hanya itu, Mia mengatakan, mereka dapat menunjukkan warna-warni yang khas dari kain tenun yang dikenakannya. Meski demikian, Mia menyayangkan karena kebijakan tersebut masih berlaku di wilayah lokal dan belum terjadi secara Nasional.

Sejauh ini, Mia menilai, pemerintah lebih mengutamakan soal kain batik. Seperti diketahui, kain batik sudah berkiprah hingga dunia internasional. Bahkan, batik menjadi ciri khas dari Indonesia.

“Untuk membuat kain tenun digunakan dalam kegiatan sehari-hari memang dibutuhkan campur tangan desainer supaya kain tenun dapat terlihat trendi dan tidak kampungan dan kaku,” ucapnya.

Dilansir dari berbagai sumber, Gubernur Sulawesi Utara Nur Alam pun pernah menjadi perbincangan belum lama ini karena keinginannya membeli 30 ribu meter kain tenun. Nantinya, kain tenun tersebut akan digunakan untuk membuat baju bagi Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Pemerintah Provinsi.

Nantinya, PNS wajib menggunakan pakaian tersebut pada Hari Kamis yang sesuai dengan kebijakan gubernur.

Selain itu, Kementerian Perindustrian juga telah menetapkan Hari Ulos Nasional setiap tanggal 17 Oktober. Kain Ulos yang merupakan tenun asal Medan, Sumatera Utara, dinilai sebagai warisan budaya tak benda. Selain sebagai bentuk penghormatan terhadap budaya tradisional, kebijakan tersebut juga dilakukan untuk meningkatkan taraf hidup dari penenun dalam mengembangkan usaha kecil menengah.

Sumber: cnn

LEAVE A REPLY