DIRUT PERTAMINA DWI SOETJIPTO : DULU SAYA MISKIN

0
1296
Dwi Soetjipto, president director of PT Pertamina, via Getty Images.

Jakarta – Kekurangan, lemah namun gigih mengubah hidup mungkin bisa menggambarkan perjuangan hidup Direktur Utama (Dirut) PT Pertamina (Persero) Dwi Soetjipto semasa kecil. Dwi membagi kisah masa kecilnya yang menyentuh hati siapa saja yang mendengar.

Berasal dari keluarga dengan ekonomi minus, Dwi bertekad harus mampu mengenyam pendidikan tinggi. Dimulai dari upayanya mengurus surat miskin setiap tahun hanya demi memperoleh potongan uang sekolah sebesar 50 persen saat masih di bangku sekolah dasar.

Perjuangannya berlanjut saat masuk bangku kuliah. Pria kelahiran Surabaya, 60 tahun silam itu berupaya mengejar bea siswa untuk bisa menamatkan kuliah di Institut Teknologi Surabaya (ITS).

“Semua orang di kampung saya bilang tidak mungkin orang seperti saya bisa kuliah di ITS waktu itu. Tapi dengan keseriusan saya, belajar giat, toh kita lulus,” ucap Dwi Soetjipto. Berkat bea siswa, Dwi meraih gelar insinyur dari jurusan Teknik Kimia ITS.

Keterbatasan fisik turut membawa Dwi menggeluti seni bela diri silat. Kerasnya kehidupan juga menjadi alasan Dwi untuk membentengi diri dengan ilmu bela diri.

Kegigihannya ini berbuah manis. Dia terpilih menjadi juara nasional yang juga membuka pintu kesuksesan di masa depan.

“Satu poin saya ingin bercerita jika berangkat dari kekurangan, kekurangan diri kita yang lemah fisik, ternyata saya bisa juara nasional. Dan itu nanti menjadi modal saya untuk berkarir ketika saya kerja,” Dwi berkisah.

Kisah Dwi berlanjut saat berkarir di industri semen. Dirinya mengisahkan cerita yang tak terlupakan sepanjang berkarir di Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Pria kelahiran Surabaya, 60 tahun silam itu mengaku pernah didemo saat menjabat sebagai orang nomor satu di PT Semen Indonesia Tbk.

Mengepalai sebuah perusahaan besar milik negara bukanlah hal mudah. Banyak tantangan yang dihadapi oleh Dwi.

Mengutip pepatah “semakin tinggi pohon menjulang, semakin kencang pula angin menerpa,” begitulah yang dialami Dwi. Jebolan gelar Doktoral Universitas Indonesia itu terus menerus “diserang” demo dari berbagai pihak.

“Ketika itu, saya didemo selama 4 bulan. Selama 4 bulan itu juga saya ada dalam pengasingan ,” ujar dia.

Dwi Soetjipto. Getty Images
Dwi Soetjipto.
Getty Images

Dalam pengasingan itu, Dwi mendapat kekuatan yang disebutnya sebagai buah kebaikan karena telah melakukan social investment atau kegiatan sosial. Pria ini aktif mengajar generasi muda latihan bela diri, pencak silat. Inilah salah satu olahraga yang sangat digemari Dwi.

“Saya bukan cuma bekerja untuk uang. Tapi saya ingin bekerja yang saya sebut pengabdian. Saya melatih silat anak-anak, sehingga mereka bisa mengembangkannya sendiri saat tumbuh besar. Ini namanya social investment yang bisa memberikan kita return. Jadi jangan ragukan kalau kita berbuat baik,” terang Dwi.

Kekuatan atau motivasi lain yang mengantar Dwi meraih puncak karir adalah dorongan kedua orangtuanya. Ia mengakui bahwa sang Ayah hanya mengecap pendidikan dasar hingga kelas 3 SD dan Ibunya buta huruf.

“Keinginan orangtua berharap saya lebih baik dari mereka. Jadi saya harus sekolah tinggi. Jadi nilai yang terbangun dalam diri, saya harus lebih baik dari kondisi saat ini,” kata Dwi.

sumber : liputan6.com

 

LEAVE A REPLY