Sesar Sausu Picu Gempa M6,7 di Palu, BMKG Pastikan Tak Berpotensi Tsunami
JAKARTA, Nawacita – Sesar Sausu Picu Gempa M6,7 di Palu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,7 yang mengguncang wilayah Torue, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, tidak berpotensi menimbulkan tsunami. Gempa tersebut merupakan jenis gempa dangkal akibat aktivitas Sesar Sausu dengan mekanisme pergerakan turun (normal fault).
Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama, menjelaskan gempa terjadi pada pukul 10.27.44 WIB dengan kedalaman 16 kilometer. Episenter gempa berada pada koordinat 1,03 derajat Lintang Selatan dan 120,24 derajat Bujur Timur, atau tepatnya berlokasi di darat sekitar 42 kilometer tenggara Palu, Sulawesi Tengah. “Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami,” ujar Nelly di Gedung MHEWS BMKG, Jakarta.
Hasil analisis BMKG menunjukkan guncangan gempa dirasakan di sejumlah wilayah Sulawesi Tengah dengan tingkat intensitas yang berbeda-beda. Wilayah Palolo, Kabupaten Sigi, mengalami guncangan terkuat pada skala VII MMI. Sementara itu, Torue dan Parigi Selatan merasakan intensitas VI–VII MMI.
Guncangan dengan intensitas V–VI MMI juga dirasakan di Sigi Biromaru dan Kota Palu. Adapun Kota Poso, Donggala, serta Pasangkayu mengalami getaran pada skala IV–V MMI.
BMKG juga menerima laporan mengenai dampak kerusakan bangunan di sejumlah wilayah terdampak. Kabupaten Sigi tercatat mengalami dampak kerusakan pada skala VII MMI. Kerusakan dengan intensitas VI MMI dilaporkan terjadi di Kota Palu, Parigi Utara, dan Poso.
Baca Juga: BMKG Prediksi Fenomena Bediding dan Hujan Lebat Masih Terjadi Sepekan Ke Depan
Sementara itu, Parigi Moutong dan Banawa Selatan mengalami dampak pada skala V MMI. Wilayah Sindue, Balaesang, dan Masamba melaporkan kerusakan dengan skala IV MMI. “Hingga pukul 12.00 WIB, hasil monitoring BMKG telah terjadi 20 aktivitas gempa bumi susulan atau aftershock dengan magnitudo terbesar M5,2,” kata Nelly.

Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, mengatakan pihaknya terus memantau perkembangan gempa susulan dan memperbarui informasi kepada para pemangku kepentingan maupun masyarakat.
Menurutnya, frekuensi gempa susulan diharapkan akan semakin berkurang seiring waktu dengan kekuatan yang semakin melemah.
BMKG juga memastikan bahwa hasil pemodelan komprehensif menunjukkan gempa tersebut tidak memicu tsunami. Untuk menjamin keselamatan masyarakat, tim teknis terus melakukan pemantauan berkala terhadap sejumlah stasiun pasang surut di sekitar wilayah pusat gempa.
Hasil pengamatan di lapangan menunjukkan kondisi perairan tetap stabil. Stasiun pemantau di Parigi dan Poso tidak mendeteksi adanya kenaikan muka air laut. “Sementara sensor di Pelabuhan Pantoloan memang mencatat kenaikan muka air laut setinggi 7,5 sentimeter, namun fluktuasi kecil ini sama sekali tidak berbahaya bagi keselamatan masyarakat,” jelas Wijayanto.
Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG, Teguh Rahayu, menambahkan bahwa BMKG telah mengirim tim khusus ke lokasi terdampak untuk melakukan survei dan meninjau langsung dampak guncangan di lapangan.
Merespons kejadian tersebut, Nelly mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum terverifikasi kebenarannya. Warga juga diminta menjauhi bangunan yang mengalami kerusakan atau retak akibat gempa serta meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan terjadinya gempa susulan.
“BMKG mengingatkan masyarakat untuk selalu memastikan kebenaran informasi melalui kanal komunikasi resmi yang terverifikasi, seperti media sosial @infoBMKG, situs resmi BMKG, maupun aplikasi InfoBMKG,” pungkasnya.
ncnws.


