Kenaikan Yesus Kristus: Bukan Akhir Perpisahan, tapi Awal Perutusan Umat ke Tengah Dunia
Surabaya, Nawacita – Umat Katolik merayakan Hari Raya Kenaikan Tuhan Yesus dengan penuh sukacita, salah satunya dalam misa di Umat Katolik merayakan Hari Raya Kenaikan Tuhan Yesus dengan penuh sukacita, salah satunya dalam misa di Gereja Katolik Paroki Santo Yusup Karangpilang, Kamis (14/5/2026). Kamis (14/5/2026).
Dalam sebuah refleksi iman yang mendalam, ditekankan bahwa peristiwa Kenaikan Yesus ke Surga bukanlah sebuah momen perpisahan yang meninggalkan kesedihan, melainkan sebuah penegasan hakikat ilahi dan awal dari misi besar bagi seluruh umat beriman.
Dalam Homili yang disampaikan, RD. Emanuel Bai Samuel Kase, menekankan tiga poin esensial yang menjadi dasar iman dalam memaknai peristiwa ini. Pertama, Kenaikan Yesus merupakan afirmasi bahwa Ia adalah Putra Allah yang berkuasa mutlak. Kenaikan-Nya ke sisi kanan Allah Bapa membuktikan bahwa maut dan dosa telah dikalahkan sepenuhnya. Peristiwa ini juga memberikan pengharapan bagi manusia, bahwa di mana Yesus sebagai “Kepala” berada, di situlah umat sebagai “Anggota Tubuh” kelak akan tinggal.
“Kepadaku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi,” ujarnya mengutip petikan Kitab Suci, menegaskan bahwa otoritas Yesus melampaui segala pemerintahan dan kekuasaan di dunia.
Poin kedua yang menjadi sorotan adalah perubahan cara kehadiran Tuhan. Disampaikan bahwa meski secara fisik Yesus tidak lagi tampak, Ia hadir dengan cara yang baru—lebih dekat, lebih luas, dan lebih mendalam melalui Roh Kudus. Umat diingatkan bahwa mereka tidak pernah berjalan sendirian, karena penyertaan Tuhan bersifat kekal hingga akhir zaman, terutama saat manusia melakukan kebajikan dan kebenaran.
Terakhir, peristiwa Kenaikan ini dimaknai sebagai “Gong” dimulainya perutusan Gereja. Umat dipanggil untuk keluar dari zona nyaman dan menjadi saksi kasih Tuhan di tengah masyarakat. Pesan ini menekankan bahwa spiritualitas tidak boleh berhenti di dalam gedung gereja.
“Ekaristi kudus itu tidak berakhir di dalam gereja ini, tetapi harus menyata dalam kehidupan sehari-hari,” tegasnya.
Kehadiran umat di tengah dunia diharapkan mampu membawa penghiburan dan harapan, serta memuliakan Tuhan melalui tindakan nyata yang membangun perdamaian, bukan perpecahan.
Perayaan ini menjadi pengingat bagi seluruh jemaat bahwa pulang dari peribadatan berarti memulai tugas baru: menjadi perpanjangan tangan Tuhan yang membawa damai sejahtera bagi sesama.
Reporter : Rovallgio

