Meski Putranya Wafat, Ayah Korban Al-Khoziny Tetap Bertekad Mondokkan Anak Kedua
Surabaya, Nawacita.co – Di tengah rasa kehilangan, sikap tabah dan ikhlas ditunjukkan oleh Ahmad Rafiq, ayah dari almarhum Daul Milal, salah satu santri yang menjadi korban dalam tragedi runtuhnya Musala di Pondok Pesantren Al-Khoziny, Buduran, Sidoarjo.
Rafiq dengan tegas mengatakan bahwa keluarganya ikhlas menerima peristiwa ini sebagai takdir Allah SWT. Ia tidak akan menuntut pihak pondok, karena menurutnya, tidak ada satu pun yang menginginkan tragedi itu terjadi.
“Kami ridho, kami ikhlas dengan apa yang terjadi. Kami tidak akan menuntut pondok. Kami titipkan anak kami untuk belajar agama, tanpa ada pamrih apa pun. Kami percaya, para pengasuh pondok sudah berjuang sebaik mungkin mendidik anak-anak kami,” ujarnya saat ditemui di kediaman rumah duka, Sukolilo, Surabaya (10/10/2025).
Ia menegaskan bahwa kejadian ini murni kecelakaan. “Kalau Allah tidak menakdirkan, pasti tidak akan terjadi,” tambahnya.
Baca Juga: Ambruknya Ponpes Al-Khoziny, Benarkah Karena Keterbatasan Anggaran?
Rafiq juga menjelaskan bahwa sejauh ini belum ada panggilan dari pihak Polda Jawa Timur terkait proses hukum. Namun baginya, hal itu tidak perlu diperbesar.
“Menurut saya tidak perlulah diperbesar. Tidak mungkin siapa pun, baik pengasuh maupun pihak pondok, ingin kejadian seperti ini. Kalau pun ada kelalaian, mungkin dari pemborong atau faktor teknis lain,” jelasnya dengan penuh pengertian.
Menanggapi isu yang menyebut keterlibatan santri dalam pembangunan pondok, Rafiq yang juga sekaligus alumni dari ponpes itu membantah keras bahwa hal itu merupakan bentuk eksploitasi.
Ia menjelaskan, kegiatan tersebut adalah bagian dari tradisi pesantren yang bertujuan menanamkan nilai kerja sama dan tanggung jawab kepada para santri.
“Kalau anak-anak ikut bantu, itu sudah tradisi pondok. Bukan eksploitasi, tapi mendidik agar mereka punya jiwa gotong royong. Kami juga dulu dari pondok, jadi tahu. Biasanya yang dilibatkan itu santri yang sudah besar, usia SMA, bukan anak kecil,” terang Rafiq.
Baca Juga: Tolak Sebutan Takdir, Suara Lantang Keluarga Korban Ponpes Minta Polisi Usut Tuntas Kelalaian
Meski baru kehilangan putra tercinta, Ahmad Rafiq tetap bertekad akan melanjutkan pendidikan anak keduanya di pondok pesantren yang sama. Ia yakin, Pondok Al-Khoziny adalah tempat terbaik untuk menimba ilmu agama.
“Insyaallah, anak saya yang nomor dua nanti juga akan mondok di Al-Khoziny. Karena pondok ini bukan sembarang pondok, tapi pondok sepuh, yang sanad keilmuannya bersambung sampai kepada Rasulullah SAW melalui Syekhuna Kholil Bangkalan,” tuturnya dengan penuh keyakinan.
Rafiq mengaku tidak menyimpan rasa trauma. Ia justru melihat kejadian ini sebagai ujian keimanan yang harus diterima dengan lapang dada.
“Tidak ada trauma. Semuanya ini qadarullah. Tidak mungkin terjadi kalau bukan karena takdir Allah,” katanya tegas.
Reporter:

