Jombang, Nawacita – Bursa calon Ketua Umum PBNU menjelang Muktamar ke-35 mulai memanas dengan munculnya desakan agar kepemimpinan mendatang bersih dari figur-figur yang terlibat konflik internal di periode sebelumnya.
Peringatan tegas tersebut disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso Jombang, KH Zainul Ibad As’ad (Gus Ulib). Menurutnya, konflik di level pusat berdampak langsung pada ketenangan pesantren sebagai basis utama organisasi.
“Pesan saya kepada PCNU dan PWNU pemilik hak suara, jangan memilih pihak yang terlibat dalam konflik tersebut,” ujar Gus Ulib, Minggu (26/4/2026).
Ia menekankan pentingnya PBNU kembali ke akar pesantren. Figur dari kalangan pesantren dinilai lebih memahami tradisi dan kebutuhan riil warga Nahdliyin di akar rumput.
Terkait munculnya dua tokoh dzuriyah (keturunan) pendiri NU asal Jombang, yakni KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) dan KH Abdus Salam Shohib (Gus Salam), Gus Ulib memberikan apresiasi positif.
“Secara kemampuan, beliau berdua tidak diragukan. Keduanya adalah dzuriyah pendiri NU dan pencalonan mereka sah secara organisasi,” jelasnya.
Namun demikian, ia mengaku menyimpan kekhawatiran jika kedua tokoh tersebut benar-benar maju. Pasalnya, peran mereka dinilai sangat vital dalam mengelola pesantren masing-masing.
“Kalau benar maju, tentu disayangkan. Karena beliau berdua sangat sentral di pondoknya. Ini akan jadi pengorbanan besar,” ungkapnya.
Ia menambahkan, kepemimpinan pesantren memiliki peran strategis dalam menjaga tradisi keilmuan sekaligus proses kaderisasi ulama di lingkungan NU. Karena itu, keputusan untuk masuk ke struktur PBNU harus dipertimbangkan secara matang.
Muktamar ke-35 NU sendiri diprediksi menjadi momentum krusial dalam menentukan arah masa depan organisasi. Sejumlah nama lain juga mulai mencuat, baik dari kalangan struktural maupun kultural.
Jika mengerucut ke Jombang, beberapa figur dinilai memiliki peluang, di antaranya Gus Irfan dari Tebuireng yang kini menjabat Menteri Haji, Gus Ufik dari Darul Ulum yang aktif di lembaga PBNU, hingga Romahurmuziy, mantan Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

