Sunday, July 14, 2024
HomeDAERAHJATIMDistribusi Dokter Tidak Merata, Ini Tanggapan Ketua PB IDI

Distribusi Dokter Tidak Merata, Ini Tanggapan Ketua PB IDI

Distribusi Dokter Tidak Merata, Ini Tanggapan Ketua PB IDI

SURABAYA, Nawacita – Distribusi Dokter Tidak Merata, Wilayah Indonesia terbentang dari Sabang hingga Merauke. Luasnya Indonesia memberikan tantangan tersendiri bagi pemerintah, termasuk dalam aspek kesehatan.

Jika kita amati sekeliling, terjadi sentralisasi dalam aspek kesehatan. Mulai dari layanan kesehatan hingga tenaga kerja medis berkumpul pada wilayah yang memiliki pendapatan ekonomi tinggi. Hal itu dibenarkan oleh Ketua Pengurus Besar (PB) Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Dokter Moh. Adib Khumaidi.

Dokter Adib menjelaskan alasan distribusi dokter di Indonesia tidak merata dan memilih praktek di kota-kota besar. “Pada prinsipnya, teman-teman dokter bersedia ke daerah-daerah, kita sudah pernah penelitian. Kenapa kemudian distribusi ini tidak merata, salah satunya karena tidak dapat dukungan jenjang karir dari pemerintah daerah,” terangnya saat dimintai keterangan awak media usai press conference HUT IDI di Kantor Sekretariat IDI Jatim, Kamis, 19 Oktober 2023.

Selain itu, pemberian insentif juga memegang peranan agar dokter mau ditempatkan di daerah, terutama di daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar). Dan terakhir jaminan keamanan secara khusus bagi dokter yang bertugas di daerah Papua.

“Insentif bagian dari kesejahteraan dokter yang mengabdi di daerah. Kemudian sarana dan prasarananya, apakah memadai. Karena misalnya dia kuliah spesialis tetapi tidak didukung dengan sarana prasarana ya sama saja tidak bisa bekerja,” tandasnya.

Menurutnya, apabila pemerintah bisa memberikan jaminan tersebut, IDI siap bantu untuk mendorong teman-teman dokter agar mau mengabdi ke daerah-daerah.

Baca Juga: Gubes ITS Kembangkan Metode Segmentasi Citra Biomedis untuk Kedokteran

“Saya katakan, kami akan siap membantu daerah, memberikan pemahaman supaya mereka mau ke daerah. Tapi tentu ada pertanyaan, nanti bagaimana saya di sana. Ini perlu ditegaskan dari Pemda,” tegasnya.

Distribusi Dokter Tidak Merata
Distribusi Dokter Tidak Merata, Ini Tanggapan Ketua PB IDI.

Lebih lanjut, Ia memaklumi keputusan rekan-rekan dokter yang memilih bekerja di kota. Hal itu dikatakannya, mengingat biaya yang harus dikeluarkan untuk sekolah kedokteran tidak murah. Belum lagi kebanyakan merupakan jalur mandiri, yang artinya tidak dibiayai negara.

Maka dari itu, diperlukan campur tangan pemerintah untuk mengatasi permasalahan ketidakmerataan distribusi tenaga medis, khususnya dokter. Dokter Adi mengatakan, Pemerintah Daerah yang memiliki kewenangan menempatkan tenaga kesehatan serta alokasi kebutuhannya.

“Pada saat itu sudah punya assessment, dokter daerah akan melakukan lebih. ayo kita dorong ke daerah lain yang masih kosong. Sehingga daerah yang penuh bisa mengatakan, untuk periode satu tahun ini saya mengatakan daerah saya tutup untuk penerbitan SIP (Surat Izin Praktek),” tandasnya.

Namun sayangnya, kebijakan menutup penertiban SIP belum pernah ada. “Akhirnya baik dokter umum maupun spesialis, dia akan mencari tempat yang ekonominya tinggi. Kecuali nanti dapat beasiswa, dikontrak daerah dan kembali ke daerah. Ini yang sekarang sedang dilakukan walaupun secara jumlah belum cukup, tapi ini harus kita dorong,” ujar Ketua PB IDI itu.

Dengan demikian, Harapannya distribusi dokter spesialis lebih merata ditempatkan sebagai tenaga strategis. Yang mana mulai dari awal asetnya sudah dibuat dan dibutuhkan daerah. “Sekali lagi, assessment itu wewenang Pemda,” pungkasnya. (via)

RELATED ARTICLES

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular